<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054</id><updated>2012-02-16T22:19:26.764+08:00</updated><category term='Diary'/><category term='Sejarah'/><category term='Jurnalisme'/><category term='Agama'/><category term='Sosial'/><category term='Klipping'/><category term='Curhat'/><title type='text'>Taman Hikmah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-6162099421854230271</id><published>2008-02-13T11:30:00.009+08:00</published><updated>2008-02-13T13:40:05.512+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Menyalakan Lampu Motor di Siang Hari</title><content type='html'>Di Balikpapan, katanya mengikuti peraturan di Surabaya dan beberapa kota lainnya di Indonesia, beberapa waktu lalu diterapkan kebijakan agar semua pengendara motor yang melintas dalam kota "wajib menyalakan lampunya walaupun di siang hari". Sekarang, kebijakan ini sudah diperda-kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya termasuk orang yang tidak setuju dengan kebijakan ini karena saya tidak melihat manfaat, setidaknya alasan yang tepat, dibalik penerapan peraturan itu. Jika dulu semua pengendara motor diwajibkan memakai helm, dan sekarang dilanjutkan dengan wajibnya penggunaan helm "standard", tujuan peraturan itu jelas-jelas bisa dimengerti; sangat jelas: untuk melindungi kepala saat jatuh atau terbentur. Atau keharusan menggunakan &lt;em&gt;seat belt&lt;/em&gt; bagi pengendara mobil di bagian depan, itu jelas peruntukannya. Tetapi menyalakan lampu di siang hari, ketika matahari bersinar sangat terik pada jam 12 siang, apakah itu ada gunanya? Ceritanya mungkin lain jika kita berada di tempat yang selalu berkabut, sedang bersalju, dan lain-lain. Namun jelas, kondisi alam ini tidak terjadi di Balikpapan, Surabaya, atau Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mencari tahu apa alasan pengambilan kebijakan ini. Dari berbagai informasi, baik di lingkungan Balikpapan sendiri maupun dari sumber lain, saya lalu menemukan beberapa hal yang dianggap jawaban. Katanya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecelakaan yang terjadi antara mobil dan motor lebih banyak kasusnya di daerah yang tidak memberlakukan kebijakan ini. Katanya lagi, angka yang ditunjukkan oleh statistik ini lebih sering disebabkan oleh tidak terlihatnya pengendara motor yang berada di belakang mobil atau tidak terlihatnya motor yang berpapasan dengan mobil pada sebuah tikungan. Dengan menyalakan lampu motor, termasuk di siang hari, maka pengendara mobil akan lebih mudah melihat jika ada motor di depan maupun di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, jika benar ini alasannya (mudah-mudahan saja bukan!), maka kebijakan ini merupakan bentuk baru dari pendakwaan salahnya seseorang sebelum proses pengadilan. Ini kezaliman. Kebijakan ini, secara tidak langsung, menanamkan satu stereotip bahwa kecelakaan-kecelakaan lalu lintas antara motor dan mobil selama ini lebih banyak disebabkan oleh kesalahan pengendara motor. Kasihan, sudah makan asap dari mobil orang-orang kaya itu, pengendara motor sudah dicap sebagai penyumbang terbesar dalam kecelakaan antara mobil dan motor. Kata orang Melayu, sudah jatuh tertimpa tangga pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengatakan, jika seorang pengendara mobil di siang hari tidak bisa melihat pengendara motor di belakangnya, apalagi di depannya, saya pikir dia sudah tidak boleh membawa mobil sendiri &lt;em&gt;(to drive&lt;/em&gt;)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; Orang ini, jika bukan karena kerusakan pada indra mata, bisa jadi dia sedang mengalami gangguan pisik lainnya yang menyebabkan matanya tidak bisa melihat dengan baik. Motor di belakang: bukankah mobil diwajibkan memiliki kaca spion kiri kanan dan di depan sopir? Jika motor ada di depan? Atau di sebuah tikungan? Jika Anda membawa mobil tetapi tidak bisa melihatnya, sebaiknya Anda beristirahat di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, mestinya yang harus dikampanyekan adalah &lt;em&gt;safety driving&lt;/em&gt; yang benar. Sebuah kendaraan sudah didesain sedemikian rupa demi keselamatan pengendaranya. Di mobil ada lampu sain, kaca spion, lampu, dan lain-lain; di motor juga ada kaca spion (yang lebih banyak dipreteli di motor-motor anak muda karna mirip orang berdo'a katanya), lampu sain, dan sebagainya. Hanya saja, memang banyak, bukan hanya pengendara motor tetapi juga pengendara mobil, yang tidak memanfaatkan, atau mungkin juga tidak tahu menggunakan, fasilitas keselamatan itu. Tentu kita sangat jengkel ketika seorang pengendara mobil tiba-tiba memotong depan kita dan berhenti tanpa memberi tanda apa-apa. Inilah yang harus diperbaiki, bukan memasang papan pengumuman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Safety Riding&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Wajib menyalakan lampu motor walaupun siang hari&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;di sepanjang jalan di dalam kota Balikpapan. &lt;em&gt;Safety Riding &lt;/em&gt;adalah menggunakan fasilitas keselamatan berkendara serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada di jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajar saja sejak perda ini pertama sekali diterapkan, banyak yang tidak mematuhinya. Menurut saya, "penolakan" ini terjadi karena peraturannya di luar &lt;em&gt;common sense. &lt;/em&gt;Di jalan-jalan, peraturan ini pertama kali diperkenalkan pada plakat-plakat di sepanjang jalan-jalan protokol Balikpapan dengan kalimat "&lt;strong&gt;diwajibkan&lt;/strong&gt; menyalakan lampu motor di siang hari," tetapi beberapa lama kemudian, kalimatnya menjadi "&lt;strong&gt;dihimbau &lt;/strong&gt;menyalakan lampu motor di siang hari." Saya malah terakhir melihat, plakat-plakat pengumuman itu sudah diganti dengan pesan, "diwajibkan menggunakan helm standard baik pengemudi maupun yang dibonceng." Nah, kalau yang ini, saya sangat setuju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, sebelum membuat peraturan, saya pikir pertama sekali yang harus dijawab adalah untuk apa dan mengapa peraturan itu dibuat. Maka marilah kita menyalakan lampu motor di malam hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-6162099421854230271?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/6162099421854230271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=6162099421854230271' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/6162099421854230271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/6162099421854230271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2008/02/menyalakan-lampu-motor-di-siang-hari.html' title='Menyalakan Lampu Motor di Siang Hari'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-3539535655955457564</id><published>2008-01-22T08:54:00.000+08:00</published><updated>2008-01-22T09:46:45.905+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Anak Adalah Guru</title><content type='html'>Seorang filosof psikolog abad ini pernah mengatakan, untuk menemukan kembali kebahagiaannya, orang-orang tua harus belajar kepada anak-anak. Mengapa? Karena pada anak-anaklah terdapat ciri-ciri yang paling penting dari orang bahagia: tulus meminta maaf, ikhlas memaafkan, punya rasa empati yang tinggi, dan lain-lain. Anak-anak yang berkelahi lima menit yang lalu, bisa langsung berbaikan sekarang. Dalam satu ruangan yang banyak anak-anak, jika salah seorang dari mereka menangis, maka anak yang lainpun akan menangis tanpa perlu tahu sebab dari tangisan teman mereka. Dalam kasus pertama karena anak-anak tulus memaafkan, memilih kebahagiaan di atas keadilan; dan dalam kasus kedua karena anak-anak memiliki empati yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di dunia nyata, bukan hanya sisi psikologi personal orang tua harus belajar sama anak-anak. Dalam hal yang paling kecilpun, ternyata orang tua juga harus belajar kepada anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari minggu lalu tanggal 20 Januari 2008, saya ke Gramedia Balikpapan bersama anak saya, Jilwah. Saat kami lagi berdiri di antrian yang panjang untuk bayar buku, tiba-tiba seorang ibu yang memakai jilbab dan dua orang anaknya nyelonong di depan kami. Dia pura-pura acuh sama saya, walaupun saya sudah sengaja batuk-batuk sebagai isyarat dan sudah menyiapkan teguran mata jika dia melihat ke saya, tetapi dia tetap membelakangi saya. Walhasil, batuk-batuk dan tatapan mata saya hasilnya sama: nihil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya terharu ketika mendengar anaknya yang laki-laki menegur si ibu. "Ma, antri dong. Mestinya kita dari belakang loh Ma, tuh antriannya panjang!" Ibunya diam saja. Karena sang anak menegur ibunya untuk kedua kalinya, sang ibu langsung "memindahkan" anaknya mirip presiden yang langsung mendutabesarkan staf yang tidak disukainya dulu. "Sudah, kamu di kasir sana saja, bayar sendiri belanjaannya," demikian perintah sang ibu. Akhirnya dua anak itu membawa belanjaannya masiang-masing lalu pindah ke kasir lain yang antriannya lebih pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih melihat ibu itu dari belakang ketika dia membayar buku yang dibelinya: sebuah kamus dan buku Cerita 25 Nabi dan Rasul. Semula saya befikir ibu itu membeli buku 25 Nabi dan Rasul agar anak-anaknya bisa belajar hikmah dari kisah para nabi. Tapi dengan kejadian itu, saya mengganti asumsi. Saya pikir, Ibu itu yang membutuhkan kisah Nabi dan Rasul, agar dia bisa belajar keteraturan dan ketertiban. Bukankah salah satu misi para nabi adalah mengajarkan keteraturan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, dalam hal yang sangat kecilpun, anak bisa menjadi guru bagi orang tua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-3539535655955457564?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/3539535655955457564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=3539535655955457564' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/3539535655955457564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/3539535655955457564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2008/01/anak-adalah-guru.html' title='Anak Adalah Guru'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-4123544247346027316</id><published>2008-01-12T15:16:00.000+08:00</published><updated>2008-01-12T15:30:20.550+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Kebijakan Energi Regional</title><content type='html'>Pendapatan dan belanja negara merujuk ke harga minyak. Tidak mengherankan, pemerintah selalu bermasalah ketika terjadi perubahan harga minyak. Akhir tahun lalu pemerintah memutuskan bahwa penanganan produksi minyak negara berada di bawah kendali langsung Wakil Presiden. Wajar saja jika minyak menjadi perhatian penting di Indonesia, karena sumbangan minyak ke kas negara berkisar 40% dari total pendapatan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi minyak dan gas adalah faktor yang sangat penting di dalam kebijakan energi nasional. Ketika pemerintah tidak mengelola migas untuk sebesar-besar bagi kesejahteraan rakyat, itu berarti pemerintah telah mengkhianati tujuan negara ini. Dengan kondisi menurunnya produksi migas negara seiring berjalannya waktu, ditambah kenaikan harga minyak yang sudah pernah menembus angka seratus dolar per barel, pemerintah memerlukan kebijakan yang lebih sistematis di bidang migas untuk merespon kondisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, salah seorang warga Balikpapan yang juga praktisi di dunia perminyakan, Suta Wijaya, memberikan saran kepada pemerintah provinsi Kaltim agar membuat kebijakan energi regional. Tentu saja kebijakan ini bukan untuk menafikan kebijakan energi nasional, tetapi untuk memberikan jaminan kepada warga untuk mendapatkan hak-haknya, khususnya hak di bidang energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis berpendapat bahwa, walaupun semua warga negara di seluruh wilayah Indonesia mempunyai hak yang sama di dalam keterpenuhan hak-hak di bidang energi, namun harus digarisbawahi bahwa Kalimantan Timur adalah salah satu provinsi yang masuk dalam jajaran penyumbang migas terbesar di Indonesia. Sayangnya, masyarakat di wilayah ini tidak ubahnya dengan masyarakat daerah lain di Indonesia. Mungkin masih bisa “dimaafkan” jika terjadi kelangkaan minyak tanah dan bensin di ujung timur Nusa Tenggara Timur yang nota bene sangat jauh dari tempat penyulingan minyak. Kita bisa mengatakan bahwa ada masalah teknis di jalur distribusi karena jarak, atau bisa dikatakan bahwa kondisi cuaca saat ini menyebabkan terlambatnya pasokan BBM yang didistribusi lewat laut. Tetapi jika terjadi kelangkaan minyak tanah di Balikpapan, alasan apa yang bisa kita sampaikan sementara kilang minyak berada di tengah kota? Apa yang bisa kita dijadikan alasan kelangkaan BBM itu sementara kilang minyak tetap beroperasi normal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi inilah yang memerlukan kebijakan regional. Ironis jika warga Balikpapan yang berada di samping kilang minyak akan menjadi itik yang berenang di air tetapi mati kehausan. Yang lebih penting lagi, sudah tiga tahun warga Kaltim mengalami krisis listrik, listrik harus dipadamkan secara bergilir tiga kali seminggu selama delapan jam. Kita bisa memahami bahwa suplai migas sebagai bahan bakar pembangkit listrik yang bisa diperoleh dari kontraktor Migas di Kalimantan tidak bisa didapatkan dengan segera karena kontrak penjualan antara kontraktor Migas dengan kliennya sudah dibakukan dari awal dan susah dirubah dalam sekejap. Akan tetapi, jika kesemrawutan ini berlangsung selama tiga tahun lebih tanpa ada kejelasan &lt;em&gt;action plan&lt;/em&gt;, kita bisa membuat kesimpulan sederhana bahwa pemerintah daerah tidak serius menangani masalah ini. Atau setidaknya, mungkin ada permasalahan lain dalam pengambilan keputusan di tingkat nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu menarik komentar sekretaris provinsi Kaltim, Syaiful Teteng, seperti yang disiarkan Smart FM pagi 12 Januari ini menanggapi ide Pak Suta Wijaya itu. Katanya, “ide itu bukan hal baru, itu sudah dipikirkan oleh pemerintah dari awal dan kita sudah menuju kesana.” Yang lebih aneh lagi ketika Teteng mengatakan, “Pemerintah sudah tahu berapa kebutuhan listrik di Kaltim tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang dan kita sudah antisipasi itu.” Aneh! Jika Pak Teteng benar, mengapa daerah ini mengalami krisis listrik sampai tiga tahun? Setahu saya, Pak Teteng dan timnya sudah menjadi pemerintah di daerah ini lebih dari tiga tahun lalu. Apakah mereka baru menginventarisir kebutuhan listrik daerah Kaltim tahun ini saja? Lucu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis respon pemerintah ketika menerima saran atau kritikan dari masyarakat. Pemerintah yang sedikit sombong, jika diberi ide, mereka akan menjawab bahwa ide itu sudah mereka pikirkan jauh hari sebelumnya; contohnya ungkapan Pak Teteng itu. Ada lagi pemerintah yang sok tawadhu’, seolah-olah mau menerima saran masyarakat dan melanjutkannya dengan tindakan pada saat itu juga. Bagaimana responnya jika diberi saran? mereka akan mengatakan, “terima kasih atas sarannya, kita akan bekerja bersama untuk mewujudkan saran itu.” Akan tetapi, beberapa waktu berlalu, masyarakat terpaksa memberikan saran yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain, ada pemerintah yang langsung mengaku bersalah dan bawaannya adalah meminta maaf dimana saja. Sayangnya, mereka tidak punya rencana tindakan yang jelas. Penulis terus terang kecewa dengan pemerintah Balikpapan. Pernah sudah menghadiri banyak acara, dari seminar, perayaan hari-hari keagamaan, sampai acara halal bi halal yang dihadiri walikota, di setiap ujung pidatonya, Pak Walikota akan selalu mengakhirinya dengan permintaan maaf, “kepada seluruh warga, kami sebagai pemerintah meminta maaf atas krisis listrik yang terjadi di daerah ini. Tetapi perlu kami sampaikan, mudah-mudahan masalah ini secepatnya bisa kita selesaikan.” Mau tahu sudah berapa lama Pak Walikota Balikpapan menutup pidatonya dengan kalimat penutup seperti itu? Sudah tiga tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, usulan Pak Suta Wijaya itu menjadi penting, belum lagi jika harga minyak dunia yang diprediksi akan menembus 200 dolar per barel benar-benar terjadi. Investasi migas di daerah ini juga masih prospektif, itu bisa dilihat dari kesepakatan yang muncul dalam pertemuan Presiden SBY dengan pembesar Total Indonesie, salah satu kontraktor migas besar di Kaltim, pertengahan tahun lalu. Total Indonesie mengatakan bahwa mereka akan melakukan ekspansi bernilai milyaran dolar sampai tahun 2009 di daerah ini. Bisakah pemerintah Kaltim menjemput kesempatan itu demi kepentingan rakyat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, bisa jadi memang pemerintah Kaltim sudah memiliki rencana-rencana matang untuk menyelesaikan beberapa masalah yang masih jadi kendala di daerah ini. Tetapi tentu saja kita tidak ingin rencana itu hanya muncul di kertas, apalagi hanya di kepala saja. Saat ini, yang paling dibutuhkan oleh rakyat adalah masalah-masalah tersebut bisa diselesaikan secepatnya, bukan retorika dan permintaan maaf. Untuk itu, perlu keseriusan pemerintah dalam menangani isu-isu yang berhubungan dengan masyarakat, khususnya kebijakan untuk memanfaatkan energi dari sumber daya alam untuk sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat. Mudah-mudahan saja, pemerintah bisa mengambil tindakan yang ril, setidaknya mulai hari ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-4123544247346027316?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/4123544247346027316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=4123544247346027316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/4123544247346027316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/4123544247346027316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2008/01/kebijakan-energi-regional.html' title='Kebijakan Energi Regional'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-876306949360737893</id><published>2008-01-06T11:31:00.000+08:00</published><updated>2008-01-06T11:46:22.867+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diary'/><title type='text'>Ulang Tahun Pernikahan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;5 Januari 2001, tujuh tahun yang lalu. Hari Jumat. Pada jam 10 pagi, lebih telat sedikit dari rencana semula, kami mengikat janji bersama, kami menikah. Di depan orang tua dan sanak saudara, kami menghalalkan diri satu sama lain dalam mitsaqan ghalidza, seperti istilah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, 5 Januari 2008, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah tujuh tahun biduk ini kami jalankan bersama. Inilah mungkin salah satu bukti teori relatifitas Einstein. Dengan sekian ragam bumbu yang menyertai perjalanan, hidup kami semakin diperindah dengan kehadiran dua bidadari kecil: Jilwah dan Naya. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152203400036725634" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_OBE3U_cap2Y/R4BNsd2_s4I/AAAAAAAAAFQ/rxeHunietNY/s320/Buah+Hati.jpg" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Ki-Ka: Naya dan Jilwah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang istimewa dalam perayaan ulang tahun pernikahan kami kali ini. Lebih banyak ke introspeksi mestinya. Namun, tak cukup pula jika kami tidak melakukan sesuatu, sekedar menambah bumbu kebersamaan itu, biar terasa lebih nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, saya mengajak istri saya untuk memanggil kenangan.Kami keluar, ke sebuah tempat makan. Kami memilih tempat makan yangkami anggap cukup lumayan, tempat yang terdiri dari beberapa bale-bale terapung. Kami kemudian memilihi sebuah gazebo di pojok, di atassebuah kolam, yang di bawahnya ikan-ikan koi besar bermain2 dengankilatan cahaya yang berwarna-warni, seakan2 mengerti kebahagiaan kami yang membuncah malam itu. Di atas meja, lilin redup melengkapi suasana, dan lagu "Have I told U Lately" yang diputar pelan-pelan semakin melambungkan kami kembali, kembali ke delapan tahun yang lalu, saat kami saling malu ketika kenalan pertama, di pintu Satu. Ah kawan, saya jatuh cinta lagi, yang kesekian kali, dan itu untuk perempuan yang sama. Baju motif bunga yang dikenakan istri saya malam itu mewakili hati saya yang juga berbunga-bunga, dan jilbab biru muda yang mempercantik wajahnya seperti perasaan saya yang juga biru, bahagia seluas langit biru tanpa batas. Saya tiba-tiba ingat "Perempuan, Rumah Kenangan" yang baru kukhatamkan malam kemarin, saya ingat Ian dan Rahman. Tahu kawan yang terlintas di hati saya? Saya merasa menang KO 999 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulang tahun pernikahan, ya, mestinya memang menjadi momen instrospeksi. Tuhan, temani kami untuk menjadi lebih baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-876306949360737893?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/876306949360737893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=876306949360737893' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/876306949360737893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/876306949360737893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2008/01/ulang-tahun-pernikahan.html' title='Ulang Tahun Pernikahan'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OBE3U_cap2Y/R4BNsd2_s4I/AAAAAAAAAFQ/rxeHunietNY/s72-c/Buah+Hati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-5000120379254973655</id><published>2007-12-19T16:21:00.001+08:00</published><updated>2007-12-19T16:23:09.790+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Pesan Idul Adha dan Natal 2007</title><content type='html'>Sekitar tiga minggu lalu, di OhMyNews.com dimuat sebuah artikel opini dari seorang reporter, judulnya "A Crisis of Faith." Di artikel itu dijelaskan bahwa saat ini agama kehilangan signifikansi, bahwa para pemuka agama alih-alih menyampaikan ajaran agama yang mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat, mereka justru disibukkan oleh topik-topik yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemberdayaan masyarakat. Intinya, agama telah kehilangan esensi dasarnya untuk menyebarkan kedamaian dan membantu tercapainya kesejahteraan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premis-premis yang digunakan Carlos Arturo Serrano Gomes di dalam artikel tersebut tentu saja masih bisa didiskusikan; akan tetapi, sebagaian besar fakta yang ditunjukkannya memang seperti itu walaupun lagi-lagi masih bisa diterjemahkan ulang. Agama, ketika diterjemahkan ke dalam realitas sosial, berubah menjadi topeng. Sejatinya agama adalah suluh kebenaran, tetapi kenyataannya agama disulap sebagai pembenaran atas penindasan dan perampasan hak-hak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ini, di dua minggu terakhir bulan Desember, kita dianugrahi dua hari raya besar: Idul Adha dan Natal. Seperti yang pernah disampaikan oleh seorang tokoh Lebanon, Sayyid Muhammad Husein Fadhlullah, semua hari besar agama, bahkan hari raya nasional, memberikan pesan dan makna yang sama. Hari-hari besar itu adalah sebuah momen kebangkitan dan kesadaran, bahwa kita hidup dengan segala tugas kemanusiaan untuk memberikan maslahat sebesar-besarnya, bukan hanya untuk sesama manusia, tetapi juga untuk seluruh alam. Hari-hari besar itu semestinya memantik kembali semua orang khususnya pemeluk agama di hari raya mereka, agar mereka benar-benar bisa menerjemahkan agama sebagai pembawa dan pengokoh pesan damai dan kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Adha bagi ummat muslim adalah simbolisasi totalitas kesadaran Ibrahim untuk mengorbankan miliknya yang paling berharga demi memenuhi titah Tuhan. Kita mempercayai, toh Ibrahim tidak jadi menyembelih anaknya karena Tuhan hanya ingin melihat kesungguhan dalam ketaatannya saja. Dengan demikian, Idul Adha janganlah dimaknai hanya sebagai hari dimana ummat Islam memotong hewan kurban saja. Lebih dari itu, Idul Adha di dalam pemaknaan tertingginya membawa pesan bahwa keberIslaman sejati adalah pengorbanan tulus untuk membela orang-orang tertindas. Personifikasi dari seorang muslim sejati yang bersenyawa dengan pesan idul Adha ini adalah orang yang membaktikan dirinya untuk berbuat secara maksimal bagi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Natal adalah simbol dari kelahiran. Di dalam masyarakat manapun, kelahiran dimaknai sebagai munculnya harapan baru. Kelahiran adalah pertanda dimulainya babak baru yang lebih baik, simbol kontinuitas dan keterjagaan. Oleh karena itu, kelahiran Sang Juru Selamat yang akan menyelamatkan ummat manusia adalah momen yang paling menentukan. Isa al-Masih adalah firman yang membumi, bahwa titah langit tidak akan bermakna apa-apa jika tidak diterjemahkan di bumi. Karena itulah idealitas dan kesempurnaan ilahiyyah harus menampak, untuk itulah makanya harus ada Kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Kelahiran yang tidak mau berkurban bagi kemanusiaan tidak lebih baik dari kemandulan, itulah Natal yang kehilangan makna. Hikmah Ibrahim di hari idul Adha juga tidak akan memberi manfaat jika hedonisme menghalangi kita berbagi dengan sesama. Pemotongan hewan kurban, yang harus hewan sempurna tanpa cacat, yang kemudian dibagikan kepada sesama, adalah pesan penting dari "keharusan" untuk berbagi dengan orang lain. Hidup bersama haruslah dilakoni dengan ketulusan berbagi dan saling membantu, dan kehidupan harmoni ini akan membawa kita kepada kebersamaan yang lebih baik, sebuah kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, perayaan dua hari raya di bulan ini adalah sebuah berkah. Marilah kita memaknainya dengan kesadaran, bahwa kita adalah anak-anak Adam yang harusnya hidup damai dan saling berbagi. Tugas kemanusiaan kita banyak, dan itu tidak memandang warna dan agama. Tugas-tugas itu hanya akan bisa kita selesaikan jika kita mengerjakannya bersama-sama. Jika kita mampu memainkan peran masing-masing dengan baik di dalam komunitas bersama ini, saya yakin kekhawatiran yang dituliskan di dalam artikel yang saya sebutkan di atas akan hilang dengan sendirinya. Dan itu bisa kita mulai (lagi) pada bulan ini, ketika kita merayakan Kurban dan Kelahiran (lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Damai.&lt;br /&gt;Mustamin al-Mandary&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-5000120379254973655?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/5000120379254973655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=5000120379254973655' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/5000120379254973655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/5000120379254973655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/12/pesan-idul-adha-dan-natal-2007.html' title='Pesan Idul Adha dan Natal 2007'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-2771065199809061718</id><published>2007-11-28T09:03:00.000+08:00</published><updated>2007-11-28T09:10:00.479+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Klipping'/><title type='text'>Tragedi si Anak Durhaka</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tulisan ini adalah artikel budaya yang dimuat di harian Kompas tgl 28 Nopember 2007. Saya merasakan kegelisahan yang sama perihal sepak terjang Malaysia dalam beberapa waktu terakhir. Ketika membaca artikel ini, saya melihat Mohammad Sobary marah dengan cara yang cantik; sungguh saya sangat suka cara marah seperti ini. Karenanya, saya meng-&lt;/em&gt;copy&lt;em&gt; dan memuatnya disini.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tragedi Si Anak Durhaka&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mohamad Sobary&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kebudayaan kita tersimpan kekayaan moral yang melimpah. Kekayaan itu terpelihara dengan baik di dalam masyarakat kita karena kita memiliki sistem dan mekanisme pewarisan nilai-nilai kebudayaan yang hidup dan berkembang melintasi batas-batas abad dan generasi. Menurut rumusan bijak Minangkabau, sistem tersebut tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan tradisional kita—yang sebagian besar kita pelihara di dalam kehidupan keluarga di daerah-daerah pedesaan yang masih bersifat komunalistis—secara seimbang ditumpukan pada tiga dimensi sekaligus, yaitu dimensi kognitif, afektif, dan evaluatif. Di sana—pada intinya—kecerdasan otak (dimensi kognitif) dan kecemerlangan jiwa (dimensi afektif) baru ada maknanya apabila keduanya dapat diwujudkan secara nyata di dalam hidup keseharian kita menjadi dimensi evaluatif. Maksudnya, kita tak boleh hanya omong. Kita tak boleh hanya berteori dan berangan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali itu, sistem pewarisan nilai-nilai kebudayaan tadi tercermin tidak saja di dalam pendidikan resmi melalui sistem persekolahan, melainkan juga di dalam kehidupan kesenian kita, termasuk unsur seni bela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam seni ini muatan moral tadi tersirat, tetapi jelas bagaikan tersurat: guru silat masih selalu menyisakan satu dua jurus yang tak diajarkan pada murid buat berjaga-jaga mengatasi bilamana ada murid durhaka yang melakukan pemberontakan melawan guru dan perguruannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh bangsa yang disebut rumpun Melayu paham akan perkara ini. Bangsa China yang besar lebih paham lagi. "Wisdom" dunia seni bela diri yang diangkat dari novel-novel silat menjadi tema heroik di dalam seni perfilman. Maka, muncullah film-film silat dari negeri China yang dahsyat dan juga film silat dari negeri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni mengatur negara, seni sastra dan seni bela diri, di zaman lampau merupakan satu rangkaian yang tak terpisahkan. Negara yang kuat membutuhkan tentara, pesilat-pesilat tangguh, ahli seni di bidang taktik dan strategi politik, dan seniman di bidang sastra yang mendalam dan mahir menuliskan kisah-kisah sang raja dan keluarga bangsawan menjadi kisah memikat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, sempurnakah kebudayaan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Dilihat dari segi munculnya anak durhaka macam Malin Kundang, terbuktilah bahwa ada yang kurang dalam kebudayaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dilihat dari ungkapan bijak masa lalu, yang mengatakan "bukan salah bunda mengandung, buruk suratan tangan sendiri" jelas bagi kita bahwa Si Malin Kundang menjadi anak durhaka bukan karena salah kebudayaan. Malin Kundang muncul dalam kebudayaan bukan karena ia pada dasarnya anak salah asuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kebudayaan merasa berhak mengutuknya menjadi batu agar anak durhaka tak dilahirkan kembali oleh proses sosial-ekonomi kapitalistis yang memang angkuh, terlalu percaya diri, tetapi tak cukup tahu diri seperti tetangga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan moral kita jelas: terkutuklah semua anak durhaka. Dan, kita tak perlu lagi berpayah-payah mengutuk mereka? Kita cukup menjadi orang tua yang bijak, guru yang sabar, dan tak perlu risau menghadapi kedurhakaan anak atau muridnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu. Namun, saya tak mau menjadi orang tua dan guru seperti itu. Saya harus bertindak. Saya akan selalu memegang pedang untuk mengusir semua anak dari "neraka". Maksudnya, saya akan mencegah anak-anak berbuat durhaka supaya mereka tak harus mengalami tragedi mengenaskan, menjadi batu menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap saya ini terakomodasi dengan baik di dalam ungkapan lama juga: "Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah". Maka, saya pun menyanggah sikap durhaka itu.&lt;br /&gt;Tetangga kita itu mengejek kita Indon. Mereka tak tahu bahwa bila Indon itu dicarikan kata lainnya yang serumpun, misalnya Indu; maka kita ini berarti bulan. Dan, bulan itu cantik.&lt;br /&gt;Jadi, kita bukan sekadar truly Asia karena truly Asia pada dasarnya hanya truly Malingsia. Sebaliknya, kita "truly Indu", sungguh-sungguh bulan yang cantik memesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kalau Indon itu makssudnya Indun, maka artinya juga mentereng: sapaan penuh sayang. Sebaliknya, kalau Indon itu Indus, dan bertemu dengan nesos, jadilah Indos nesos, atau Indonesia. Indus artinya air, yaitu lautan-lautan kita yang cantik, biru memesona. Nesos, artinya pulau-pulau, yang sebagian sudah mereka maling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tindakan durhaka. Kita dulu guru mereka. Ketika agak makmur secara ekonomi, mereka merasa sudah pandai. Padahal, ternyata belum tahu etika bertetangga yang baik. Dalam perkara ini saya heran, mengapa pemerintah dan rakyatnya sama-sama congkak, cingkak, dan angkuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hendak belajar mengelola minyak dan kita bersedia menjadi guru yang baik hati. Mereka minta diajari bikin kantor berita dan kantor berita Antara menjadi guru yang pemurah. Ini semua karena semangat untuk mengajari orang-orang bodoh agar kita bisa menerangi mereka dengan cahaya ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, mereka lupa kebaikan kita. Bukan salah bunda mengandung, buruk suratan jelas hasil kecongkakan mereka sendiri. Bangsa apa tetangga kita ini? Karena saya berguru kepada bangsa dan negara Australia, sikap saya kepada mereka sangat hormat. Banyak warga kita yang juga hormat sekali kepada bangsa dan negara Amerika karena mereka berguru di sana. Begitu pula mereka yang belajar di Inggris, di Perancis, Belanda, Rusia, Denmark, Norwegia, dan di negara-negara Eropa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kita memiliki satu murid saja menjadi murid durhaka? Tak tahukah mereka pesan tersirat dalam dongeng-dongeng moral yang menggambarkan betapa tragis akibat tindakan durhaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahukah mereka, tragedi anak durhaka itu menjadi batu, yang selalu menangis karena menyesal, tetapi sesal itu tak berguna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berkali-kali mereka meludahi wajah kita. Namun, pemerintah kita yang sangat bijaksana itu diam saja. Sombonglah terhadap bangsa yang sombong karena melawan kesombongan dengan sikap sombong itu sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ke mana pula pemuda-pemuda yang merasa dirinya sudah siap memimpin itu? Mengapa pemimpin bisu terhadap isu-isu internasional yang sangat menginjak harga diri dan martabat bangsa kita? Apa beda mereka dengan orang tua? Dikemanakan jiwa Bung Karno yang heroik dan patriotik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan biarkan mereka menjadi batu. Selamatkan bangsa Fir’aun itu dengan tongkat Musa di tangan kita agar mereka tak tenggelam ke dalam lautan kesombongan mereka sendiri. Selamatkan mereka, setidaknya Anwar Ibrahim dan keluarganya, agar kita tak dipersalahkan dunia. Anwar dan keluarganya bukan bagian dari pencuri itu. Dan, dia bukan si anak durhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mohamad Sobary, Budayawan&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-2771065199809061718?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/2771065199809061718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=2771065199809061718' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2771065199809061718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2771065199809061718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/11/tragedi-si-anak-durhaka.html' title='Tragedi si Anak Durhaka'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-7312719052696623879</id><published>2007-11-21T09:58:00.000+08:00</published><updated>2007-11-21T10:03:46.049+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Betapa Sering Tuhan Diajak Maksiat</title><content type='html'>Saya kaget sekali lagi pagi ini. Kompas online memberitakan, seorang Bapak di Kolkata, dulu Kalkutta, India, dibebaskan dari tuduhan bahwa dia mengawini anak kandungnya karena tidak cukup bukti. Tapi bukan itu yang mengagetkan saya, justru yang menikam sumsum adalah pengakuan Afazuddin Ali (36) sang Bapak, bahwa apa yang dilakukan itu bukanlah kriminal, "semua dilakukannya karena perintah Tuhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, banyak orang yang mengaku menerima perintah Tuhan langsung. Ahmad Mosaddeq, yang menghebohkan Indonesia dengan &lt;em&gt;al-Qiyadah&lt;/em&gt;-nya juga mengaku menerima perintah Tuhan. Tapi ini masih "tidak seberapa." Yang mencengangkan adalah, banyak kejahatan yang dilakukan atas nama Tuhan, seperti kejahatan Afazuddin ini. Dalam konteks yang hampir sama, meledakkan bom dan melukai orang-orang tak berdosa di tempat yang tidak ada peperangan, juga adalah kejahatan atas nama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil contoh kasus di Kolkata ini, betapa tidak cerdasnya orang beragama. Atau agama hanya dijadikan tameng untuk menutupi dan memoles kejahatan? Yang paling durhaka adalah menyebut-nyebut Tuhan untuk menjustifikasi perbuatan buruk yang dilakukan seseorang. Lalu sedemikian burukkah wajah agama itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap komunitas pasti memiliki anggota yang jumud dan anggota yang rasional. Sayangnya, agama lebih sering dilihat dari orang-orang jumudnya. Namun bisa jadi, kejumudan Afazuddin itu justru lahir dari pemahamannya yang "mendalam" terhadap agama. Dan dalam situasi ini, orang yang paling bertanggungjawab adalah ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang paling sederhana untuk menguji klaim seseorang bahwa perbuatannya adalah perintah Tuhan adalah nilai keadilan dalam perbuatannya tersebut. Artinya, perbuatan itu adalah perintah Tuhan jika keadilan inheren di dalamnya, tidak perduli perintah itu datang darimana : kitab suci, mimpi, taqlid kepada ulama, dan lain-lain. Di dalam pengujian ini, kita mensyaratkan keadilan Tuhan di dalam perbuatan yang dianggap sebagai perintah Tuhan itu. Jika tidak, klaim itu pasti kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, selama ini kita jarang diajari konsep keadilan Tuhan, kalaupun ada, terdapat pemelintiran yang bisa menjebak. Mazhab-mazhabpun beragam dalam menjelaskannya. Yang parah adalah ketika dikatakan bahwa tidak ada syarat keadilan di dalam perbuatan Tuhan, semua yang dilakukannya pasti adil. Jadi jikapun Tuhan memasukkan pendosa ke dalam surga, itu pasti adil; atau jika Tuhan memasukkan ahli ibadah ke dalam neraka, itu juga adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan, dalam pengertiannya yang mendasar, adalah keproporsionalan dan kepatuhan untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tapi itu bukan berarti bahwa jika Tuhan itu adil, maka kita memaksanya untuk patuh kepada keadilan. Tidak! Tuhan itu adil dalam dzatNya maka apapun yang dilakukannya adalah adil. Keadilan bersumber dari Tuhan, maka keadilanNya bukanlah sesuatu yang lain dari diriNya. Ketika kita mengatakan bahwa Tuhan pasti adil, itu bukan berarti bahwa Tuhan disyarati kepatuhan, karena yang kita syaratkan Dia patuhi adalah Dzatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, akal sehat mengatakan bahwa tindakan Afazuddin yang menikahi anaknya sendiri merupakan tindakan yang tidak proporsional. Jika benar itu adalah perintah Tuhan, tindakan itu telah melanggar konsep keadilan Tuhan. Ini kontradiksi. Bahkan di dalam teks agamapun yang merupakan perintah Tuhan yang diformalkan, tidak ada perintah seperti itu. Kesimpulannya, ini pasti kebohongan yang nyata. Celakanya, Tuhan telah diseret untuk melakukan kebohongan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering Tuhan diajak berbuat salah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-7312719052696623879?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/7312719052696623879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=7312719052696623879' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/7312719052696623879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/7312719052696623879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/11/betapa-sering-tuhan-diajak-maksiat.html' title='Betapa Sering Tuhan Diajak Maksiat'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-4447503865545227523</id><published>2007-11-13T13:49:00.000+08:00</published><updated>2007-11-13T14:39:50.887+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Orang Kecil-lah Yang Besar</title><content type='html'>Pernahkah Anda memikirkan peran tukang sapu jalan? Atau membayangkan para pekerja yang mengambil sampah kita setiap hari di rumah? Atau mungkin pembantu dan &lt;em&gt;baby sitter &lt;/em&gt;kita? Perawat? Pemadam kebakaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya ke Makassar beberapa waktu yang lalu, ternyata di kompleks kami pengelolaan sampah sudah ditangani sendiri oleh RT. Developer yang dulu berjanji akan menangani ini, sudah angkat tangan (mungkin sudah tidak ekonomis). Akhirnya, dari  jadwal pengambilan sampah seminggu tiga kali, sekarang sampah di depan rumah hanya akan diambil seminggu dua kali, itupun kadang hanya seminggu sekali. Ketika memandang tumpukan sampah di hari kelima, saya baru sadar betapa butuhnya kita tukang sampah itu. Mereka mungkin berbau busuk karena bersentuhan dengan sampah yang paling kotor setiap hari, tetapi mereka justru telah menjauhkan kita dari sampah dan penyakit yang kita takuti dengan mengorbankan dirinya sendiri. Mereka adalah lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perayaan Agustusan beberapa waktu lalu, betapa kotornya jalan-jalan protokol di Balikpapan. Sewaktu musim hujan lalu ada beberapa pohon tumbang di jalan Sungai Ampal, kemacetan bisa mencapai satu kilometer. Dalam kondisi itu, ada sekelompok orang yang bekerja keras agar jalan bisa bersih kembali, agar kami juga bisa lewat lagi di jalan yang sebelumnya tertutup pohon yang tumbang. Mereka adalah petugas pembersih jalan, orang yang sering kita kecilkan setiap hari. Ketika saya lewat hari itu, hati saya berpikir, "siapa yang akan mengerjakan masalah ini jika tidak ada mereka?" Betapa pentingnya kehadiran mereka saat ini di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu terjadi kebakaran di Pasar Baru. Dengan sigap, para pemadam kebakaran bekerja. Mereka bisa menyelamatkan beberapa kios, yang mungkin saja habis terbakar jika pemadaman hanya dilakukan dengan air pakai ember. Mereka sudah menyelamatkan aset, dan juga nyawa. Bukankah mereka pahlawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya di rumah sakit di bagian gawat darurat, di suatu pagi di hari libur. Seorang calon pasien datang dalam keadaan setengah mati karena sesak nafas. Nenek itu tersiksa dan tidak ada yang bisa menolongnya di jalan, bahkan di rumahnya sendiri. Ketika masuk ke ruang gawat darurat, bukan dokter yang menyambutnya pertama, tetapi perawat. Para perawat inilah yang melakukan pertolongan pertama, menyelamatkan sang nenek jauh sebelum dokter datang. Betapa berjasanya mereka....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman kerja saya, kelimpungan ketika pembantunya dan &lt;em&gt;baby sitter&lt;/em&gt;nya akan &lt;em&gt;resign &lt;/em&gt;bulan Januari nanti. Dia membayangkan siapa yang akan menemani bayinya nanti, dan siapa yang akan memasak, membersihkan rumah, dan melakukan pekerjaan domestik nanti saat mereka pergi bekerja. Dia? Tentu saja dia akan capek sepulang kerja. Dia bilang ke saya, "saya baru tahu, betapa pentingnya mereka, bukankah kita bisa bekerja karena mereka ada di rumah" begitu katanya. Ya, kita bisa bekerja karena mereka, dan mereka juga bekerja karena kita "memberinya" pekerjaan. Ternyata, posisi kita sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, seorang keluarga yang telah menjaga anak saya selama dua setengah tahun, yang memberi makan dan menjaga putri pertama kami ketika kami pergi bekerja, juga akan pulang. Dia akan menikah dengan seorang lelaki tua yang menjadi pilihan orang tuanya, walau dia mengaku tidak bisa menerimanya. Tetapi dia akhirnya akan pulang juga, demi membahagiakan orang tuanya. Ketika tadi pagi dia memastikan kepulangannya, saya baru menyadari, betapa pentingnya dia bagi anak kami. Dia telah menjadi sejarah dalam dua setengah tahun pertama kehidupan putri kami. Saya bukan sedih karena kehilangannya, tetapi sedih karena sejarah anak saya itu akan menempuh lintasan yang lain. Kami pasti masih akan berkomunikasi, tetapi ada yang hilang dalam keluarga kami karena selama ini kami tidak pernah menganggapnya sebagai orang lain. Hari ini, saya sadar dengan kadar yang lebih tinggi, Timah begitu berharga buat kami. Tetapi sayang, kesadaran ini juga kemudian mengantar kepergiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang selama ini sering kita anggap kecil, justru adalah orang besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-4447503865545227523?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/4447503865545227523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=4447503865545227523' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/4447503865545227523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/4447503865545227523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/11/orang-kecil-lah-yang-besar.html' title='Orang Kecil-lah Yang Besar'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-6813471822803561842</id><published>2007-11-09T16:37:00.000+08:00</published><updated>2007-11-09T17:23:02.820+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Ulang Tahunku yang ke-33</title><content type='html'>Hari ini saya berulang tahun yang ketigapuluhtiga. Rasanya saya sudah semakin tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memulai hari ini dengan indah. Saya dibangunkan dengan ucapan selamat ulang tahun dan kecupan hangat dari istri saya. Sebelum berangkat kerja, saya menggendong dua bidadari kecil saya, dan merekalah hadiah ulang tahun yang paling berharga buat saya pada tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang adik dari Makassar mengirim sms ucapan selamat, katanya dia tidak punya kata-kata yang tepat untuk menyelamati, kecuali doa agar cita-cita saya tercapai. Kubalas dengan ucapan terima kasih, dan jawaban bahwa "waktu saya sudah semakin sedikit, tetapi kerinduan saya untuk bisa melakukan sesuatu buat orang lain belum terwujud."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang ini, istri saya menelpon, katanya beliau sudah ada di parkir kantor. "Ada apa dia tumben datang siang-siang begini mau memberi sesuatu?" pikirku. Saya suruh masuk saja. Dan, ternyata istri saya datang bersama kemenakan membawa kue ulang tahun. Ah, saya malu sekali. Saya belum pernah dikejutkan begini seumur-umur; jangankan diberi hadiah kue ultah, mengingat hari ulang tahun di kampungpun tidak. Saya malu akan diolok-olok teman. Walhasil, saya memberikan penyambutan yang tidak seharusnya kepada istri saya karena rasa malu itu. Walaupun setelah pulang saya mengirimkan sms kepadanya dan meminta maaf karena sambutan saya tidak sepadan dengan keinginannya untuk mengejutkan, tapi saya merasa istri saya sudah kecewa. Saya bilang, saya tidak siap dikejutkan begini. Saya ingin meminta maaf lagi kalau pulang ke rumah nanti, dengan kecupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ulang tahun yang indah. Saya ingin mencoba lagi agar hari-hari saya begini seterusnya. Semoga saja saya bisa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-6813471822803561842?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/6813471822803561842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=6813471822803561842' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/6813471822803561842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/6813471822803561842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/11/ulang-tahunku-yang-ke-33.html' title='Ulang Tahunku yang ke-33'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-8230623231329502683</id><published>2007-11-09T13:14:00.000+08:00</published><updated>2007-11-09T16:21:26.683+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Oh, Hukum itu Begitu?!</title><content type='html'>Kemarin, 8 Nopember 2007, saya bersama lima orang teman, memenuhi panggilan kejaksaan untuk memberikan kesaksian atas "laporan masyarakat" perihal penyelewengan pembelian barang di lingkungan perusahaan. Sayangnya, tidak disebutkan siapa yang melaporkan. Kata teman dari legal advisor, menurut hukum, memang bisa begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami datang, sesuai surat undangan, pada jam 9 pagi. Sekitar jam 10-an, barulah salah seorang teman dipanggil ke dalam ruangan interview. Dan saya, baru dapat giliran pada jam 2.30 sore. Bayangkan, saya duduk disana dari jam 9 pagi sampai 2.30 sore itu &lt;em&gt;for waiting&lt;/em&gt;. Saya berfikir, betapa tidak produktifnya saya hari ini, celakanya saya tidak membawa satu bukupun untuk dibaca. Akhirnya saya membunuh kejenuhan dengan cerita sama teman, dan sesekali main game di handphone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba juga akhirnya giliran saya. Saya langsung disodori beberapa pertanyaan tulisan. Selanjutnya, saya harus menjawab pertanyaan secara lisan yang akhirnya jawaban lisan saya tulis kemudian, atas permintaan penyidik. Ah, menjawab dua kali pikirku. Ini beberapa cuplikan interviewnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Mustamin, tahu project North Bravo?"&lt;br /&gt;"Project yang mana Mas? (saya memanggil Mas karena saya anggap penyidiknya masih muda. Ini cara saya memanggil orang). North Bravo itu salah satu anjungan. Disana sudah banyak project sejak 30 tahun lalu. Nah, maksud pertanyaan ini project apa? Bisa membantu dengan sedikit penjelasan?"&lt;br /&gt;"Ya project North Bravo?"&lt;br /&gt;"Wah, kalau semuanya saya tidak tahu Mas. Saya mulai bekerja disana pertengahan tahun 2004 sampai pertengahan 2007. Dalam kurun waktu itu, saya bisa ceritakan karena sayalah project leadernya."&lt;br /&gt;"Coba ceritakan salah satunya saja."&lt;br /&gt;"Yang mana Mas? Dalam surat pemanggilan, saya tidak tahu dipanggil karena project yang mana. Saya juga ini bingung? Tapi kalau menyebut satu contoh selama masa kerja saya, bisa; cuman, apakah ini maksud pemanggilan ini atau tidak, saya juga tidak tahu."&lt;br /&gt;Saya melihat jaksanya agak pusing juga. Saya kemudian mencairkan suasana setelah melihat foto-foto pelapor yang ada di depan jaksa muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, wawancara berlangsung begitu-begitu saja, penanya tidak tahu apa yang ditanyakan; sementara yang ditanya juga tidak tahu maksud pertanyaan. Jaksa telah menerima laporan dari masyarakat, tetapi mereka tidak punya cara memverifikasi dan bagaimana cara menindaklanjuti laporan itu, khususnya dari sisi teknis. Dalam wawancara ini saya berkali-kali menyampaikan, saya berbicara bukan sebagai saksi fakta, karena mereka menanyakan hal-hal yang sama sekali saya tidak terlibat di dalamnya, sebuah project yang dieksekusi jauh sebelum saya masuk ke perusahaan saya sekarang. Tetapi mungkin, pelaksanaan hukum di negri ini begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warung makan, saya ngobrol dengan teman legal advisor yang menemani kami. Katanya, hukum perdata dan pidana kita masih banyak mengadopsi hukum Belanda yang bahkan di Belanda sendiri sudah diperbarui lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saya sempat komplein bahwa saya telah menghabiskan waktu seharian disini, tidak membuat apa-apa, dibiarkan, tidak "diberi" apa-apa, tidak ada kompensasi sedikitpun. Ini ada &lt;em&gt;opportunity lost, &lt;/em&gt;kataku sedikit jago. "Tidak, sebenarnya ada uang transport untuk setiap orang yang dipanggil bersaksi, tapi Pak Mus mau dikasih Rp. 25?" demikian penjelasan dan pertanyaan teman yang tidak perlu saya jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan saya, mestinya kejaksaan itu punya orang teknik, ekonomi, IT, dan lain-lain di dalam tim penyidikan. Dalam kasus yang saya datangi ini, sepertinya jaksa tidak mengerti yang ditanyakannya. Saya yang malah cenderung men-&lt;em&gt;drive&lt;/em&gt; percakapan. Walhasil, penyidikan tidak mendapatkan hasil. Selain itu, saya pikir semua laporan harus diverifikasi dulu kepada pelapornya sebelum ditindaklanjuti. Bahkan, menurut saya, bagusnya pelapor dihadirkan bersama dengan saksi seperti saya ini, agar jelas tujuan pertanyaan dan penyidikannya. Sayang, hukum kita tidak mensyaratkan itu, katanya untuk melindungi pelapor katanya. Tapi mestikah begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata hukum seperti itulah. Bentuknya sangat harfiah. Semua orang bisa "berkelit" bahkan "memelintir" teks. Maka tidak heran jika pelaku illegal logging kemudian bebas dan anehnya hakim mengatakan bahwa mereka siap mempertanggungjawabkan keputusan mereka secara hukum. Tentu saja, mereka lebih mengerti hukum. Dan hukum tidak mengenal perasaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-8230623231329502683?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/8230623231329502683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=8230623231329502683' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/8230623231329502683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/8230623231329502683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/11/oh-hukum-itu-begitu.html' title='Oh, Hukum itu Begitu?!'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-2035877310719833081</id><published>2007-10-01T13:36:00.000+08:00</published><updated>2007-10-01T14:43:52.788+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Surat Untuk Nayla (1)</title><content type='html'>Salamun 'alaykum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik Nayla, gimana kabarmu? Puasamu baik-baik saja kan? Jangan lupa mendoakan Kakak di malam Laylatul Qadr ya, biar Kakak dan keluarga diberikan kekuatan oleh Allah untuk menjadi lebih baik. Nayla, Kakak menulis surat ini karena semalam tiba-tiba Kakak merasa harus menuliskannya. Atau mungkin tepatnya Kakak merasa ingin menuliskannya. Biar jadi sejarah kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan kita kemarin perihal sekolahmu mungkin pembicaraan paling serius yang pernah Kakak ingat. Mungkin karena Kakak berfikir bahwa sekarang kamu berada di posisi &lt;em&gt;injury time &lt;/em&gt;untuk bisa menyelesaikannya. Jangan sergah dulu apa yang disebut menyelesaikan itu! Kamu akan mengerti setelah membaca habis isi surat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sependapat bahwa pendidikan bukanlah hanya di kelas, bahwa ijazah bukan ukuran berpendidikan atau tidaknya seseorang. Bukankah banyak orang berpendidikan yang ternyata menipu, atau banyak orang yang memalsukan ijazahnya agar bisa menjadi anggota dewan? Sekali lagi, kita tidak menyelesaikan perbedaan pandangan masing-masing dalam hal itu, karena toh kita mempunyai pandangan yang nyaris sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Kakak sampaikan kemarin itu hanyalah karena Kakak ingin berperan sebagai orang tua kita di kampung. Kakak merasa, Kakak mengerti perasaan kamu dalam hal ini, dan pada saat yang sama Kakak juga mengerti perasaan Ibu dan Ayah. Namun, itulah yang menjadi kecelakaan buat Kakak, karena kalian justru "berseberangan," setidaknya itu yang kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pasti tahu sekali bahwa tidak ada yang paling diharapkan Ibu dan Ayah dari kamu selain menyelesaikan sekolahmu. Bagi mereka, kata selesai itu adalah kamu pulang membawa ijazah, bukan pulang membawa ilmu yang abstrak itu. Ibu tidak bisa melihat ilmumu, tetapi dengan gampang beliau bisa melihat ijazahmu. Kakak sudah pernah mencoba menjelaskan kepada Ibu dan Ayah perihal pendapatmu, yang juga pendapatku, tentang ilmu dan ijazah yang sering kita diskusikan itu, tetapi mereka hanya bisa mengerti jika kamu pulang dengan ijazah. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak akhirnya berfikir, kalau mau membuat mereka senang, kamu tidak punya pilihan lain kecuali menyelesaikan sekolahmu secara formal. Tentu saja kamu punya pilihan lain untuk mengatakan "tidak perlu!", tetapi itu pasti akan mengecewakan mereka. Kakak pernah mendengar Ayah menyatakan kepasrahannya, bahwa kalaupun kamu pulang tanpa ijazah, beliau siap walaupun berat, bukankah Kayla juga pulang ke rumah tanpa menyelesaikan sekolahnya dan tanpa membawa ijazah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak mengingat kata-kata Ayah itu semalam. Ayah siap rupanya, walaupun berat; tetapi Ibu tidak. Kakak lalu membuat perumpamaan. Anggaplah ijazah itu seperti sesuatu, baju baru misalnya. Karena kamu lebih sederhana dalam berpakaian, kamu tidak ingin membeli baju baru untuk lebaran nanti, tapi kamu mengumpulkan uang untuk membelikan baju buat Ibu dan Ayah. Untuk apa kamu membelikan mereka baju? Tentu saja agar mereka senang karena mereka merindukan punya baju seperti itu sudah lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ijazah itu bukan untuk kamu. Ijazah itu buat Ibu dan Ayah. Kamu, dan saya setuju itu, tidak butuh ijazah itu, tetapi Ibu dan Ayah membutuhkannya. Tidak inginkah kamu membahagiakan mereka sekali ini? Mereka cukup kecewa dulu ketika Kayla pulang dan memutuskan untuk tidak "menyelesaikan" sekolahnya. Apakah kamu ingin membuat mereka kecewa dua kali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu bilang kamu tidak bisa menyelesaikan sekolahmu hanya untuk pura-pura, atau hanya untuk bersandiwara seperti yang Kakak istilahkan dalam sms kepada kamu beberapa hari lalu. Istilah itu mungkin memang kurang tepat. Tapi Kakak pikir, tidak bisakah kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kita tidak terlalu suka tetapi kita melakukannya demi membahagiakan orang yang sudah berkorban banyak buat kita? Apalagi itu orang tua kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak yakin kamu bukan tidak bisa menyelesaikan sekolahmu. Kamu hanya tidak mau karena kamu tidak punya motivasi untuk itu, setidaknya kamu punya motivasi dengan arah yang lain, atau beda defenisi. Kamu bilang bahwa kamu tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan idemu. Mengapa kamu belajar jadi egois? Hanya satu &lt;em&gt;driver &lt;/em&gt;yang selalu Kakak sebutkan, lakukanlah semuanya demi membahagiakan orang tua kita. Hanya itu. Belikanlah baju Ibu dan Ayah walaupun kamu sendiri tidak ingin memakai baju itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin Kakak bisa memberikan saran. Pulanglah ke rumah. Bicaralah baik-baik sama Ibu dan Ayah. Sampaikanlah apa yang kamu pikirkan. Mudah-mudahan mereka mau menerima. Terus terang, Kakak sudah pernah melakukan itu, tetapi Ibu tidak bisa mengerti, setidaknya waktu itu. Mungkin saat itu waktunya memang terlalu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu hal yang Kakak fikir. Mungkin kamu sudah punya cita-cita sendiri bagaimana membahagiakan Ibu dan Ayah dengan caramu sendiri. Tapi yakinkah bahwa kamu pasti bisa mewujudkannya nanti? Kakak sendiri tidak pernah bisa memastikan masa depan. Yang Kakak bayangkan adalah, jika sekiranya caramu itu tidak berhasil, maka kamu gagal dua kali. Tetapi jika kamu membahagiakan Ibu dan Ayah sekarang dengan cara yang diinginkannya dan kamu berhasil, setidaknya kamu sudah berhasil sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu saja dulu. Kakak mau melanjutkan pekerjaan lagi. Salam sama Enny kalau dia datang lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-2035877310719833081?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/2035877310719833081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=2035877310719833081' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2035877310719833081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2035877310719833081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/10/surat-untuk-nayla-1.html' title='Surat Untuk Nayla (1)'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-9186521839279430814</id><published>2007-09-27T13:09:00.000+08:00</published><updated>2007-09-27T13:48:54.766+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Timpang</title><content type='html'>Kemarin, 26 September 2007, benar-benar hari yang tidak mengenakkan di rumah kami. Sekitar jam 2-an siang, saya yang lagi menemani teman-teman &lt;em&gt;meeting&lt;/em&gt;, di telepon oleh istri.&lt;br /&gt;"Pua', ada surat dari PLN. Isinya mengatakan, karena kita telat membayar rekening listrik, maka mulai hari ini listrik di rumah diputus. Sekarang lagi mati lampu, tetapi setelah hidup nanti, listrik di rumah tidak akan bisa menyala lagi."&lt;br /&gt;"Lalu?", tanya saya mengorek isi surat.&lt;br /&gt;"Kita harus bayar dulu, ditambah biaya denda dan biaya pemasangan kembali, setelah itu baru bisa hidup kembali."&lt;br /&gt;Saya meminta istri saya untuk segera membayar.&lt;br /&gt;"Tapi sekarang sudah tutup semua tempat pembayaran, sudah jam 2.30 ini", jawab istriku mulai panik.&lt;br /&gt;"Tidak. Sekarang pergi ke Klandasan. Di samping kantor PLN, ada tempat pembayaran yang buka sampai jam 10 malam. Bayar saja disana. Kalau bisa, telpon dulu PLN agar kita bisa selesaikan ini dengan baik-baik. Kita kan baru telat enam hari" (&lt;em&gt;Ternyata, batas terakhir pembayaran listrik disini adalah tanggal 20 setiap bulannya, kami baru menyadari itu&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya sempat menelpon ke PLN.&lt;br /&gt;"Pak, kok tidak ada pemberitahuan awal kalau mau diputus? Ini kan baru telat enam hari. Lagian kami kan selalu bayar setiap bulannya."&lt;br /&gt;"Surat peringatannya ya yang dibawa itu", kata petugas PLN.&lt;br /&gt;"Tapi kok langsung?"&lt;br /&gt;"Ya memang begitu!"&lt;br /&gt;Istri saya mulai tidak tahan, "enak sekali ya, sudah mati hampir tiap hari, kita yang telat bayar baru enam hari langsung diputus."&lt;br /&gt;"Ya sudah, putuskan saja sekalian listriknya selama-lamanya," kata petugas PLN menutup pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya kemudian ke Klandasan, dan &lt;em&gt;alhamdulillah&lt;/em&gt; dia bisa menyelesaikan pembayaran hari itu. Sebenarnya beliau mau membayar dua hari lalu, tetapi karena loket pembayaran di dekat kantor istri saya mengalami masalah network hari itu, rencananya baru mau bayar hari ini. Ternyata masih rusak. Dan datanglah orang-orang PLN itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan, memutuskan aliran listrik di rumah tanpa ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai pembayaran, kami kemudian menelpon ke PLN yang membawahi masalah pemutusan ini di bagian Balikpapan Utara. Sekitar jam 3 sore, saya menelpon kesana menyampaikan bahwa kami sudah menyelesaikan pembayaran. Janjinya, mereka akan menyambung kembali. Tetapi ketika saya sampai di rumah jam 5.30, pemutusan masih belum disambung kembali. Saya menelpon lagi, dan janjinya akan disambung kembali secepatnya. (&lt;em&gt;Sesuai pengalaman, saya kurang percaya jawaban-jawaban begini&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya hari itu kami mengadakan buka puasa di Graha Azzahra. Disana saya kemudian mencari tahu apakah ada teman yang memiliki koneksi di PLN. Dan syukurnya, ada Ali Mulyadi yang mengenal Pak X di PLN. Dengan bantuan Pak X-lah akhirnya listrik kami disambung kembali sekitar jam 7 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini benar-benar tidak mengenakkan. Saya kasian sama anak-anak, mereka gerah jika mati lampu di rumah. Saya malah tidak fokus di &lt;em&gt;meeting&lt;/em&gt; tadi siang, bahkan meninggalkan buka puasa di Graha Azzahra sebelum makan. Malamnya Pak X menelpon, "Bulan depan jangan lupa lagi Pak Mus ya. Memang begitu sekarang Pak. Kami ditugaskan untuk menyelesaikan tunggakan. Sebenarnya kalau Bapak ada tadi, petugas tidak akan memutus kalau Bapak siap menyelesaikan hari ini." (&lt;em&gt;Tadi siang itu, Pak Margono sudah mengatakan kepada petugas bahwa kami akan bayar hari ini, tetapi tetap saja diputus&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membandingkan antara pelayanan bank dan telpon dengan pelayanan PLN ini. Karena sekarang Telkom punya kompetitor, layanan Telkom baik sekali. Jika kita mengadu, langsung difollow up, mungkin mereka khawatir kita pindah ke &lt;em&gt;provider&lt;/em&gt; lain. Di bank, yang karena memiliki banyak pesaing, nasabah sangat "dihormati." Tapi dengan PLN yang memonopoli listrik, hari ini kami merasa benar-benar dianiaya. Kami mengaku salah, tapi ini baru sekali dan pelayanan PLN di Balikpapan jauh lebih buruk. Tidak imbanglah antara kesalahan kecil kami dengan kesalahan besar PLN. Ketidakimbangan itulah yang membuat kami merasa dianiaya. Di kota yang notabene kaya minyak dan gas ini, listrik harus dipadamkan bergiliran setiap waktu. Di satu kompleks, listrik akan mati minimal 4x seminggu. Bayangkan, ini sudah berlangsung tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam itu, setelah menyala beberapa jam, listrik padam lagi beberapa jam. Benar-benar timpang. Kapan ya hak menjual listrik diberikan kepada perusahaan lain agar PLN (Balikpapan) belajar melayani dengan baik?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-9186521839279430814?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/9186521839279430814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=9186521839279430814' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/9186521839279430814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/9186521839279430814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/timpang.html' title='Timpang'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-2174672398547557811</id><published>2007-09-21T14:15:00.001+08:00</published><updated>2007-09-21T15:10:36.003+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Salah Makna</title><content type='html'>Seperti rutinnya, hari ini saya ikut shalat Jumat. Tentu saja saya menyimak khotbah khatib dengan teliti. Beliau membahas perihal memuliakan ramadhan dengan puasa dan tarawih, sambil mengutip ayat-ayat Alquran dan hadits Nabi dengan bahasa Arab yang fasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang menarik dari ceramah khatib tadi. Dia mengutip sebuah hadits yang mengatakan, "barangsiapa yang melakukan shalat tarawih di bulan ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, maka Allah akan mengampuni dosanya yang terdahulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu betul, seperti yang dikutip oleh khatib dalam bahasa Arabnya, bahwa hadits yang disebutkan itu menggunakan kata &lt;em&gt;qiyam &lt;/em&gt;yang diterjemahkan oleh khatib sebagai &lt;em&gt;shalat tarawih&lt;/em&gt;. Padahal kalau kita mau teliti, pengertian &lt;em&gt;qiyam &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;shalat tarawih &lt;/em&gt;sangat jauh berbeda&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;Secara harfiah, &lt;em&gt;qiyam &lt;/em&gt;berarti berdiri, atau mendirikan shalat secara umum, sedangkan &lt;em&gt;shalat tarawih&lt;/em&gt; menunjuk kepada shalat khusus yang dilakukan secara berjamaah di bulan puasa seperti yang kita kenal. Karena banyaknya shalat yang bisa dilakukan di malam-malam ramadhan, tentu kata &lt;em&gt;qiyam&lt;/em&gt; bukan bermakna &lt;em&gt;shalat tarawih &lt;/em&gt;saja dalam hadits itu. Namun demikian, karena khatib menerjemahkan hadits itu dengan lancar, hal itu memberikan kesan bahwa memang kata &lt;em&gt;qiyam &lt;/em&gt;itu terjemahannya "hanyalah" shalat tarawih saja. Sayangnya, khatib tidak mengurai dan menjelaskan hal ini di bagian selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan, tidak sedikit penghotbah, atau Ustadz, yang menerjemahkan bahasa sumber-sumber pertama ke dalam bahasa Indonesia dengan "caranya" masing-masing. Masalahnya, sering sekali penerjemahan itu melencengkan maksud dari kata yang sebenarnya. Bayangkan misalnya pelencengan yang bisa terjadi jika satu kata atau kalimat yang bermakna umum diterjemahkan ke dalam arti yang khusus. Bahkan yang lebih buruk lagi, penerjemahan satu kata jelas-jelas berbeda di dalam kata asalnya. Di Tembagapura dulu, ketika seorang Ustadz menegaskan pelarangan ziarah kubur dengan mengutip hadits, "Nabi melarang &lt;em&gt;safar &lt;/em&gt;kecuali ke tiga tempat, masjidil haram, masjidil aqsa dan masjid Nabi," saya kemudian bertanya, "mana kata kubur di hadits itu? kenapa pula kata &lt;em&gt;safar&lt;/em&gt; dimaknai ziarah kubur?, bukankah &lt;em&gt;safar&lt;/em&gt; artinya perjalanan dalam pengertian umum?" Waktu itu Ustadznya tidak bisa menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ilmu fiqh, tindakan Ustadz yang membuat kesimpulan (sendiri) dalam penarikan hukum, dan mungkin ini termasuk penerjemahan yang berimplikasi hukum, disebut &lt;em&gt;qiyas&lt;/em&gt;. Sebagian besar ulama menolak &lt;em&gt;qiyas&lt;/em&gt; sebagai sumber hukum, kecuali Abu Hanifah. Tetapi dalam prakteknya, seperti di mesjid tadi, sering kita jumpai "kesalahan kecil" yang bisa berimplikasi besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin membahas tentang &lt;em&gt;fiqh &lt;/em&gt;shalat tarawih atau bermaksud menyerang khatib tadi, tetapi saya ingin mengajak untuk memberikan pendidikan yang benar kepada ummat. Khatib, atau ustadz, adalah orang yang dijadikan panutan dan rujukan oleh masyarakat. Jika kita tidak memberikan informasi yang jelas, kita akan membawa masyarakat juga ke jalan yang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, kita harus berhati-hati ketika menyampaikan hukum, atau mungkin ajakan, kepada masyarakat. Jika memang tidak tahu, mungkin lebih baik diam. Atau ada yang paling bagus menurut saya: sampaikanlah semua mazhab fiqh tentang satu hal, lalu biarkanlah masyarakat yang memilih mazhab apa yang akan diikutinya. Bukankah itu lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustamin al-Mandary, 21 September 2007, 9 Ramadhan 1428H, 14:56&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-2174672398547557811?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/2174672398547557811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=2174672398547557811' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2174672398547557811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2174672398547557811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/salah-makna.html' title='Salah Makna'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-5259737870355384849</id><published>2007-09-19T14:18:00.000+08:00</published><updated>2007-09-19T15:22:50.534+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Teknologi Yang Memudahkan</title><content type='html'>Hari ini, pagi menjelang siang, saya ingin mengambil uang di ATM Niaga di dekat kantor. Sayangnya, sesampainya di ATM, ternyata ATMnya sedang &lt;em&gt;out-of-service&lt;/em&gt;, ada perbaikan seperti tertulis di kertas yang ditempel di pintu masuk. Wah bagaimana nih? Padahal pembayaran tiket cuti keluarga &lt;em&gt;deadline&lt;/em&gt;-nya hari ini. Kalau tidak dibayar, bisa dibatalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian memainkan ATM yang masih saya pegang. Mata saya kemudian melihat beberapa logo di ATM itu, ada logo ATM Plus, ATM Bersama, dan Visa Electron. Saya kemudian teringat bahwa saya pernah melihat iklan, entah bank apa, yang mengatakan "nikmati transaksi gratis di semua ATM Bersama di seluruh Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian mencoba memasukkan ATM Niaga saya ke ATM Mandiri yang ada di dekat ATM Niaga itu. Masuk! Pilih menu, dan saya bisa ambil uang. Alhamdulillah, saya bisa bayar tiket dan tidak perlu keluar dari kompleks kantor. Mana panasnya matahari siang ini minta ampun lagi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mengambil uang, saya ingat Ibu saya pernah menelpon, katanya dia butuh uang. Saya coba lagi transfer uang ke Bank BNI dari ATM Mandiri dan menggunakan ATM Niaga. Sukses! Terakhir saya mengirimi adik sepupu uang pembeli buku, ke bank Mandiri. Semuanya tanpa biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masya Allah&lt;/em&gt;. Enaknya punya teknologi seperti ini, memudahkan. Jika masih seperti dulu, saya harus mencari ATM Niaga di luar untuk bisa ambil uang. Untuk bisa transfer ke bank BNI, saya harus ambil uang dan setor di Bank BNI, atau saya transfer langsung dari Niaga ke BNI dan dikenakan biaya administrasi. Sekarang, semuanya bisa dilakukan, dengan satu ATM saja, dan tidak perlu ada &lt;em&gt;charge&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya teknologi seperti itu: memudahkan dan menenteramkan, dua syarat wajib. Teknologi yang memudahkan tetapi berbahaya, mungkin seperti PLTN yang lagi heboh itu, tentu tidak menenteramkan. Teknologi juga mestinya dimanfaatkan untuk kemaslahatan, bukan untuk menipu seperti maraknya penipuan lewat internet dan telepon genggam. Dan adalah tugas kita untuk mengembalikan teknologi itu ke fungsi yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balikpapan, 19 September 2007; 14:45&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-5259737870355384849?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/5259737870355384849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=5259737870355384849' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/5259737870355384849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/5259737870355384849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/teknologi-yang-memudahkan.html' title='Teknologi Yang Memudahkan'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-12800198045365045</id><published>2007-09-14T10:05:00.000+08:00</published><updated>2007-09-14T13:38:10.213+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Bersyukur dan Bekerja</title><content type='html'>Istri saya mempunyai seorang teman, sebutlah Ibu Ninik. Beberapa waktu lalu, Ibu Ninik baru menyelesaikan prajabatan sebagai syarat jadi pegawai negri di Balikpapan. Namun selang beberapa hari dia menyelesaikan prajabatannya, ternyata suami Bu Ninik akan pindah ke Jakarta. Suami Bu Ninik mendapatkan pekerjaan baru dan dia pindah perusahaan. Lalu bagaimana dengan Ibu Ninik? "Sulit sekali loh pindah ke Jakarta kalau masih mau jadi PNS disana," kata temannya. Seorang temannya menimpali, "Apa sih yang dicari suaminya itu, sudah enak-enak kerja di perusahaan minyak, eh, pindah lagi...kan kasian istri dan anak-anaknya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyangka bahwa kerja di perusahaan minyak itu banyak uangnya. Yang lebih parah lagi, banyak orang berfikir bahwa pekerjaan yang baik itu adalah pekerjaan yang gajinya besar. Makanya, jika ada seseorang yang pindah dari perusahaan minyak karena pilihan sendiri, maka dia dianggap tidak bersyukur terhadap apa yang sudah didapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, pekerjaan yang baik adalah tempat aktualisasi kreatifitas, mendapatkan appresiasi yang layak, memberikan tantangan untuk proses pendewasaan, sumber untuk menafkahi keluarga, dan yang pasti memberikan ketenangan dan kebahagiaan baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Bekerja di perusahaan minyak, atau di perusahaan tambang multi nasional, bukanlah jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Jika salah satu aspek di atas sudah mengalami pelapukan, maka saya sudah punya satu alasan untuk mencari pekerjaan lagi, tidak perduli berapa benefit material yang saya peroleh sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, saya menganggap bahwa mencari sesuatu yang lebih baik adalah kewajiban setiap orang. Itu saya sebut &lt;strong&gt;komitmen untuk menyempurna terus menerus&lt;/strong&gt;. Karena prinsip ini, saya merasa berkewajiban untuk memperbaiki hasil kerja saya. Akan tetapi, jika di tempat kerja sekarang proses perbaikan itu sudah tidak bisa dilakukan, maka sudah saatnya saya menyiapkan diri untuk &lt;em&gt;hijrah&lt;/em&gt;. Saya mengkritik orang-orang yang terlalu cepat "bersyukur" yang walaupun di tempat pekerjaannya dia selalu ditindas, dia diam saja karena takut dianggap tidak bersyukur. Syukur itu harus proaktif. Bentuk syukur yang diam, stagnan dan melanggengkan penindasan adalah wujud syukur dan sabar yang kehilangan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika besok atau lusa saya meninggalkan pekerjaan saya yang dianggap orang sudah sangat bagus, saya pasti punya alasan dari aspek-aspek yang saya sebutkan di atas. Tetapi tentu saja saya tidak akan memilih opsi yang lebih buruk. Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa saya hanya berkomitmen mencari sesuatu yang lebih baik. Dan dalam mencari yang lebih baik itu, saya pasti menempatkan pertimbangan keluarga di atas segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balikpapan, 14 September 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-12800198045365045?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/12800198045365045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=12800198045365045' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/12800198045365045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/12800198045365045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/bersyukur-dan-bekerja.html' title='Bersyukur dan Bekerja'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-7758798271373588820</id><published>2007-09-11T16:20:00.000+08:00</published><updated>2007-09-12T11:25:45.651+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Jurnalisme Mistis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beberapa hari terakhir, seiring dengan berjalannya proses hukum terhadap Syaukani HR, bupati Kutai Kartanegara yang terdakwa kasus korupsi, beritanya selalu menjadi &lt;em&gt;headline &lt;/em&gt;di harian Tribun Kaltim dan Kaltim Post yang terbit di Balikpapan. Di antara berita utama tentang Syaukani yang dicetak dengan ukuran huruf yang besar itu, biasanya akan disisipkan berita pendek, tetapi kadang juga panjang, tentang ritual yang dilakukan oleh teman Syaukani, Ki Gendeng Pamungkas. Hari ini diberitakan, untuk menyerang lawan-lawan Syaukani yang sebelumnya adalah kawan yang kemudian berkhianat, Ki Gendeng melakukan ritual mencampur darahnya dengan darah gagak hitam untuk kemudian ditempelkan di pintu masuk ruang sidang. Jika selama ini Ki Gendeng hanya melindungi Syaukani dari niat-niat buruk dengan melakukan ritual ringan, misalnya menebar tanah kuburan di empat sudut ruang hakim, saat ini Ki Gendeng sudah berada di &lt;em&gt;sequence&lt;/em&gt; menyerang lawan-lawan Syaukani secara terang-terangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apakah ada hubungan antara semakin terdesaknya Syaukani dengan strategi Ki Gendeng, saya tidak terlalu perduli itu. Pun ketika ada sedikit perbedaan pemberitaan ritual Ki Gendeng di Kaltim Post dan Tribun Kaltim, saya tidak mau pusing. Yang saya agak pusing adalah, mengapa berita-berita "mistis" itu harus berada di &lt;em&gt;headline?&lt;/em&gt; Atau lebih khusus lagi, mengapa berita seperti itu harus dimuat? Di harian Kompas, walaupun memberitakan peristiwa yang sama, saya tidak menemukan laporan berita yang sama. Di Republika, malah tidak ada. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya berfikir, masih banyak sisi lain dari kasus ini yang bisa dielaborasi lebih dari sekedar memberitakan kejadian-kejadian kecil yang menyertai persidangan secara detail, apalagi hanya menceritakan penusukan gagak hitam untuk diambil darahnya. Apakah wartawan koran itu tidak punya inisiatif untuk mencari tahu sendiri kira-kira bagaimana kondisi Kutai Kartanegara sendiri pada saat dugaan korupsi itu terjadi? Atau mencari pandangan lain dari pengamat tentang proses hukum Syaukani? Mungkin akan lebih menarik membicarakan plus minus ketokohan Syaukani untuk mendampingi berita utama proses hukumnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Atau mungkin setidaknya berita tentang ritual Ki Gendeng itu tidak usah dimuat. Lumayan kan, &lt;em&gt;space&lt;/em&gt; beritanya bisa untuk berita lain, atau kalau mau cari uang &lt;em&gt;space&lt;/em&gt;-nya bisa menjadi tempat iklan saja. Bagi saya, berita seperti itu tidak terlalu memberikan manfaat, kalaupun ada muatan informasinya, itu tidak signifikan. Mengapa? Saya malah menilai berita seperti itu tidak mendidik. Di dalam pemberitaan sebelumnya, disebutkan bahwa seorang saksi meninggal setelah memberikan kesaksian yang memberatkan Syaukani; kata Ki Gendeng, itu karena kena peletnya. Benarkah? Mungkin benar, tapi marilah mengajar masyarakat untuk berfikir logis. Ki Gendeng mengakui bahwa pada saat awal kasus Syaukani dilimpahkan ke pengadilan, dia tidak melakukan serangan, hanya melindungi Syaukani katanya. Tetapi mengapa harus ada yang mati karena peletnya? Lebih jauh lagi, mengapa harus pelet yang dibahas? Ah... saya malah membahas pelet juga. Walhasil, koran-koran di atas sudah sama dengan kebanyakan film dan sinetron sekarang yang senangnya tema pelet melulu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi saya, pemberitaan dan informasi mestinya mengandung unsur penting bagi pembacanya: pendidikan dan pencerahan. Inilah yang saya sebut &lt;em&gt;beyond&lt;/em&gt; &lt;em&gt;news&lt;/em&gt;. Jika media menyediakan berita untuk berita, maka media itu akan kehilangan powernya. Berita mistis yang tidak jelas ukurannya dan tidak tersentuh oleh nalar, atau tepatnya memaksa pembaca untuk keluar dari nalar, akan melestarikan proses pembodohan. Tidak inginkah media untuk mengambil bagian dalam proses pencerdasan masyarakat? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ah, saya mungkin yang terlalu gila urusan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Balikpapan, 11 September 2007, 17:25&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-7758798271373588820?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/7758798271373588820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=7758798271373588820' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/7758798271373588820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/7758798271373588820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/jurnalisme-mistis.html' title='Jurnalisme Mistis'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-736719147438243961</id><published>2007-09-10T11:14:00.000+08:00</published><updated>2007-09-10T12:54:06.515+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Mempertanyakan Arung Palakka</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di salah satu mailing list, sosok Arung Palakka kembali dimunculkan. Pemunculan itu dimulai dari sebuah tulisan tentang Arung Palakka yang masih dikomentari bahkan setelah hampir setahun. Tulisan ini ingin memberikan salah satu sudut pandang untuk "meramaikan" diskusi seputar Arung Palakka tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Arung Palakka adalah sosok kontroversial. Dia dianggap pemberontak oleh sejarah Indonesia yang disahkan pemerintahan Suharto, setidaknya sejarah Indonesia sampai pemerintahan SBY-JK. Karena bekerjasama dengan Belanda dalam meluluhlantakkan kerajaan Goa Tallo pada abad ke-16/17 dan mengalahkan Sultan Hasanuddin yang terlebih dahulu sudah disahkan sebagai pahlawan, cukuplah alasan untuk mencapnya sebagai pemberontak. Sampai saat ini, masyarakat yang mendiami bekas wilayah kerajaan Goa Tallo masih memandang sinis terhadap Arung Palakka, bahkan makamnya yang terdapat di Gowa kelihatan tidak terawat karena stereotif ini. Sementara, sekitar 250km dari Makassar, di wilayah Bone, Arung Palakka dipuja-puja sebagai pahlawan yang telah memerdekakan rakyat Bone dari penjajahan Goa Tallo. Namanya bahkan diabadikan dalam syair tradisional dan wajahnya dihidupkan lewat sebuah patung di Taman Bunga di Jalan Merdeka kota Bone.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Menelusuri tulisan Andaya di Warisan Arung Palakka (Ininnawa: 2004), kita bisa mengetahui lebih banyak tentang latar belakang kehidupan dan "pemberontakan" Arung Palakka. Melihat penderitaan masyarakatnya, bersama-sama dengan rakyat dari kerajaan-kerajaan kecil yang menjadi bawahan kerajaan Goa waktu itu, yang dipaksa oleh raja Goa Tallo untuk bekerja membangun benteng kerajaan, timbul keinginan Arung Palakka untuk membebaskan rakyatnya suatu saat nanti. Setelah melarikan diri dan diburu oleh kerajaan Goa dan sekutunya ke berbagai tempat, Arung Palakka akhirnya melarikan diri ke Batavia. Di sanalah dia berkenalan dengan Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Arung Palakka sadar betul bahwa dia (baca: kerajaan Bone) tidak akan bisa mengalahkan kerajaan Goa tanpa kekuatan senjata. Oleh karena itu, perjumpaannya dengan Belanda menjadi kesempatan bagi dia untuk menggunakan sebuah kekuatan yang bisa mengalahkan kerajaan Goa. Kesempatan itu berhasil. Arung Palakka dengan bantuan Belanda akhirnya bisa menaklukkan kerajaan Goa, membebaskan rakyat Bone waktu itu, bahkan menjadikan Sulawesi bagian selatan menjadi wilayah pemerintahannya. Dari sinilah masalahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Karena bekerjasama dengan Belanda, Arung Palakka kemudian dicap pemberontak. Akan tetapi, di kalangan masyarakat Bone, Arung Palakka adalah seorang pahlawan yang telah membebaskan rakyat Bone dari penjajahan Goa. Saya berfikir bahwa Arung Palakka sama dengan La Maddukelleng bagi orang Wajo. Ketika beberapa lama kerajaan Bone menjajah Wajo, La Maddukelleng tampil sebagai pahlawan yang membebaskan Wajo dari penjajahan itu dan bahkan kemudian menguasai Bone. Kita harus memahami bahwa relasi kerajaan-kerajaan di Sulawesi pada waktu itu adalah relasi atasan-bawahan, bukan hanya Bone (Bugis) - Makassar, bahkan antara Bone (Bugis) - Wajo (Bugis) pun juga seperti itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu apakah Arung Palakka adalah pemberontak? Kita harus melihat konteks sosial politik dimana Arung Palakka hidup untuk menjawab pertanyaan ini. Di hadapan masyarakat Bone, Arung Palakka adalah seorang pahlawan besar. Namun demikian, menurut sejarah Indonesia, sampai saat ini Arung Palakka dianggap sebagai pemberontak karena dia telah bekerjasama dengan Belanda, bahwa dia telah mengkhianati bangsa Indonesia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bangsa Indonesia yang mana? Bukankah saat itu bangsa Indonesia belum ada? Tujuan yang diinginkan oleh Arung Palakka ketika bekerjasama dengan Belanda waktu itu hanya satu, membebaskan rakyatnya dari penindasan dan penjajahan Goa. Apakah cita-cita ini bukan sebuah wujud dari "nasionalisme" Arung Palakka yang besar terhadap tanah airnya (baca: Bone)? Saya juga ingin mencatat, hubungan antara Belanda dan Arung Palakka sama dengan hubungan Mandar dengan Goa pada saat Arung Palakka menyerang Goa pertama kali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kita bisa memahami kondisi psikososial masyarakat Goa terhadap Arung Palakka pada saat ini. Dia pasti dianggap tokoh yang paling bertanggungjawab terhadap kehancuran kerajaan Goa setelah tertangkapnya Sultan Hasanuddin. Tapi pernahkah kita juga berfikir bahwa kerajaan Bone sudah hancur lebih dahulu karena penjajahan kerajaan Goa?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Disitulah diperlukan kearifan melihat sejarah. Kita harus menumbuhkan sikap kritis ketika kita melihat sejarah masa lalu di masa kini. Sejarah yang telah ditulis selalu memihak, ada latar belakang sosial politik yang mendasari kejadian-kejadian historis yang dituliskan. Membaca sejarah agama lebih menyedihkan lagi. Oleh karena itu, kasus Arung Palakka seharusnya kita baca berdasarkan persfektif abad 17. Apakah itu mungkin? Tentu saja ya, maka marilah kita mengakrabi sumber-sumber sejarah dari mazhab apa saja yang menceritakan tentang Arung Palakka. Kesimpulan yang Anda ambil akan sangat mempengaruhi kedewasaan Anda dalam bersejarah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Karena itu, ketika membahas &lt;em&gt;ushuluddin&lt;/em&gt;, sebuah ilmu tradisional yang membahas masalah-masalah pokok dan pondasi keberagamaan, saya menganggap bahwa belajar sejarah hampir sama pentingnya dengan belajar tentang Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Balikpapan,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;10 September 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-736719147438243961?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/736719147438243961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=736719147438243961' title='19 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/736719147438243961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/736719147438243961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/mempertanyakan-arung-palakka.html' title='Mempertanyakan Arung Palakka'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-2439664175133823708</id><published>2007-09-09T14:06:00.000+08:00</published><updated>2007-09-12T11:28:18.653+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Kecantikan</title><content type='html'>Saat ini, saya sudah memiliki dua orang anak, semuanya perempuan. Tentu saja, mereka adalah anugrah tak ternilai dari Tuhan untuk keluarga kami. Kehadiran mereka telah menggenapi harapan dan kerinduan yang selama ini kami mimpikan. Mereka adalah bidadari-bidadari kecil yang datang dari langit yang menjadi tempat kami menitipkan masa depan, bukan hanya masa depan di dunia, tetapi juga masa depan di alam akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman perempuan pernah bertanya kepada saya, mungkin agak personal, "sekarang, siapa yang paling cantik menurut kamu?". Beberapa saat saya berfikir, saya harus menyiapkan jawaban yang sangat tepat. Dan selanjutnya, inilah jawaban saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saat saya masih anak remaja belia, katakanlah saat di SMA, saya mungkin melihat kecantikan perempuan sangat jasadi, maksudnya lebih ke fisik. Akan tetapi, saya merasa bahwa pandangan saya tentang kecantikan itu juga mengalami perubahan. Pemahaman saya berubah sangat drastis ketika saya lebih banyak bergaul dengan orang-orang baik yang membantu saya mengenal hal-hal yang lebih substansial. Itu wajar. Dan sejak saat itu, saya mungkin mencari kecantikan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu? Orang mungkin banyak yang menyebut kecantikan hakiki adalah kecantikan dari dalam, &lt;em&gt;inner beauty &lt;/em&gt;istilahnya&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;Tapi saya lebih dari itu. Kecantikan menurut saya lebih ke psikis, jiwa, dan mungkin agak klise kalau saya masukkan juga satu lagi, ruh. Kecantikan adalah kesempurnaan jiwa seorang perempuan dalam proses perjalanannya memaknai hidup. Lalu apa ukurannya? Tentu saja, kesempurnaan jiwa dan ruh seseorang, bukan hanya perempuan, akan terlihat dari sikap, ucapan dan perbuatannya. Dalam terminologi yang saya akrabi, kesempurnaan jiwa yang merefleksikan kecantikan (atau ketampanan) hakiki seseorang hanya bisa dilihat dari &lt;em&gt;akhlaq&lt;/em&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tentu memilih istri saya dulu karena dia cantik, setidaknya dalam pandangan saya. Dia tentu tidak sempurna, sebagaimana saya, dalam segala hal. Tetapi mencari kesempurnaan di alam fisik ini kan sesuatu yang tidak mungkin. Saya memilih istri saya adalah karena kecantikannya dalam pengertian saya di atas. Namun yang perlu dipahami, pemilihan seharusnya mengasumsikan bahwa saat kita memilih, penentuan pilihan itu adalah titik awal dalam memulai sebuah proses panjang untuk menyempurnakan kecantikan bersama. Dan itulah komitmen awal saya bersama istri, bahwa kami sama-sama cantik, dan kami akan berproses bersama untuk menjadi lebih cantik. Ternyata, cantik itu mengalami proses penyempurnaan yang gradual, fisik juga termasuk. Saya melihat istri saya jauh lebih cantik sekarang daripada sembilan tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya sudah memiliki anak-anak perempuan, siapakah yang paling cantik antara mereka dan ibunya? Saya jawab merekalah, tiga orang perempuan, yang paling cantik di dunia saat ini, tentu mendampingi ibu saya yang jauh sebelumnya sudah menyandang predikat tercantik sebelum istri dan anak-anak saya lahir. Ah, mana mungkin "ter" itu bisa dinisbatkan kepada beberapa orang, "ter" itu selalunya disifatkan kepada satu entitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang? Seperti yang saya sudah katakan, kecantikan tidaklah terikat kepada objek fisik. Jika kita memahami bahwa kecantikan adalah fisik saja, maka tentu penggunaan awalan "ter" pada kata tercantik harus menunjuk pada satu objek. Akan tetapi jika kita memahami bahwa kecantikan bukan fisik (saja), maka nisbat empiris tentu tidak bisa kita lekatkan. Anda tidak mungkin bisa mengukur kualitas dan tingkatan iman seseorang kepada Tuhan, karena iman itu abstrak dan bukan fisik. Dalam konteks inilah saya mendudukan kecantikan itu. Dan dengan defenisi ini pula saya dengan bangga mengatakan, perempuan tercantik di mata saya adalah istri saya dan dua anak perempuan saya, mendampingi ibu saya yang karena kecantikannyalah saya bisa lahir dan menjadi orang seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada perempuan, jadikanlah kecantikan sebagai identitasmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-2439664175133823708?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/2439664175133823708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=2439664175133823708' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2439664175133823708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2439664175133823708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/kecantikan.html' title='Kecantikan'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-2042200861591483038</id><published>2007-09-08T08:33:00.000+08:00</published><updated>2007-09-12T11:32:23.430+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Berdo'a</title><content type='html'>Tadi malam, saya mengunjungi seorang teman, acara akikahan anaknya yang keempat. Saya datang bersama istri dan Jilwah, anak kami yang pertama. Senang juga cerita-cerita lagi, mengingat penggalan persitiwa saat kami masih bekerja sama-sama di Semen Bosowa tujuh tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pulang, saya mendengar seorang motivator di Smart FM. Dia bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu motivator itu membaca (lagi) ramalan Joyoboyo bahwa suatu saat nanti di Jawa akan datang suatu kondisi dimana banyak orang yang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;mabuk berdoa&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Dia kemudian tertawa, katanya sekarang sudah banyak orang yang mabuk dalam doa, mabuk dalam pengertian dasar: hilang kesadaran. Saya juga tertawa. Bukankah sekarang banyak orang begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, seorang professor di UIN Mks, Qasim Mathar (ah..... saya ingat saya pernah dipanel bersama membahas filsafat Mulla Shadra di UIN...hehehe...), dihalalkan darahnya oleh beberapa tokoh agama Islam di Mks karena beliau mengatakan bahwa kurangilah berdoa (masalah utamanya sih karena dia bilang Paus Paulus Johannes akan masuk surga, dan lain-lain...). Saya baca artikelnya di Fajar. Saya sepaham, Pak Qasim Mathar mengatakan bahwa sekarang banyak orang yang &lt;strong&gt;berdoa bukan pada tempatnya&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga kadang tertawa melihat acara do'a bersama di televisi. Ada Ustadz "nakal" bilang, doa bersama tak lebih dari rekayasa psikologis, ustadz pemimpin doa pura-pura menangis, dan peserta menangis betulan. Ini mungkin keterlaluan. Tetapi mengingat bahwa ada ustadz terkenal yang tidak mau datang di Balikpapan memimpin majelis doa kalau tidak dibayar 40 juta, saya mengaminkan Ustadz nakal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga berfikir bahwa ada kebiasaan berdoa yang di luar kewajaran. Sekarang kita melihat banyak acara doa istighasah. Ketika ada lumpur lapindo, orang "menyelesaikannya" dengan berdoa; ada bencana, orang berdoa; ada kasus persengketaan tanah dengan pengusaha serakah, dilakukan doa bersama biar menang, dan lain-lain. Yang agak lucu lagi, dan ini yang saya tidak senang: berdoa dilakukan di mesjid, atau di lapangan terbuka, dan suaranya diperdengarkan melalui puluhan pengeras suara dengan volume terbesar ke seluruh penjuru bumi. Tidak berfikirkah kita bahwa mungkin ada orang sekitar yang sedang sakit, atau sedang butuh ketenangan, atau berdoa tidak seperti kita? Tentu suara kita akan mengganggu mereka kan? Paling susah kalau lapangan tempat berdoanya berada di samping rumah rumah sakit, seperti lapangan Merdeka di dekat rumah sakit pertamina di Balikpapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Ustadz pernah menyampaikan sebuah hadis dari Nabi. Katanya, suatu waktu para sahabat Nabi berkumpul di mesjid dan berdoa bersama-sama dengan suara keras. Tentu saja, karena tidak serempak, suaranya menjadi gaduh. Akhirnya Nabi keluar dari dalam rumahnya dan "memarahi" mereka, "janganlah doa kalian mengganggu orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kapan kita berdoa? Kita bisa berdoa kapan saja tentunya. Tapi doa itu harus sepadan dengan ikhtiar. Penyelesaian kasus Munir tentu tidak "mempan" hanya dengan kita berdoa, bahkan doa 40 juta orang sekalipun, selama tidak ada ikhtiar pemerintah untuk menyelesaikan kasus tersebut. Alih-alih untuk membiayai Ustadz yang harus dibayar 4o juta untuk memimpin doa keselamatan rakyat Balikpapan, &lt;em&gt;mending &lt;/em&gt;uang itu kita gunakan untuk membantu membiayai pendidikan anak-anak nelayan miskin. Bukankah begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdoa adalah kebutuhan. Merujuk dalil kausalitas, doa adalah salah satu &lt;strong&gt;sebab batin&lt;/strong&gt; yang bisa mempengaruhi akibat, bahkan yang bersifat fisik sekalipun. Akan tetapi, doa harus kongruen dengan ikhtiar, terutama menyangkut sebab fisik yang nyata menjadi syarat dalam tercapainya sesuatu. Kita tidak bisa berdoa agar air mendidih tanpa memanaskannya dengan api sebagaimana kita sia-sia berdoa agar air tidak mendidih padahal kita memanggangnya dengan api 200 derajat celcius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berdoalah dengan tenang, jangan menganggu orang lain. Menangislah dalam doa, tapi jangan rekayasa. Berdoa adalah posisi terdekat kepada Tuhan, bahkan ada hadis Nabi yang menyebut shalat sebagai doa. Kalau mau lebih dekat lagi, berdoalah di kesunyian di tengah malam dan tidak perlu memperdengarkannya kepada orang lain. Kata hadis, salah satu penghuni surga adalah orang yang meneteskan air mata karena berdoa di kesunyian malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita berdoa bersama-sama, saya disini, Anda di tempat Anda. Kita berdoa bersama untuk kemenangan, keselamatan dan kebahagiaan semua kaum tertindas dan kehancuran kaum penindas. Tetapi kita juga mengangkat "pedang" untuk melawan penindasan secara sosial politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Tuhan yang Maha Tahu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-2042200861591483038?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/2042200861591483038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=2042200861591483038' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2042200861591483038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/2042200861591483038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/berdoa.html' title='Berdo&apos;a'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-5159515018973972663</id><published>2007-09-07T12:53:00.000+08:00</published><updated>2007-09-12T11:34:57.399+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Kesetaraan Gender, Tipuan?</title><content type='html'>Saya baru pulang shalat Juma't. Seperti biasa, saya mengambil dan membaca buletin yang disediakan di mesjid. Di salah satu buletin itu, ada iklan acara begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Bedah Buku &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;(Khusus Muslimah)&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Keadilan dan Kesetaraan Gender&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Tipu Daya Penghancuran Keluarga&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya termenung sendiri. Apakah memang jargon kesetaraan gender adalah tipuan? Mungkin jawabannya adalah iya. Tapi, saya punya pemaknaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepemaknaan saya, keadilan adalah basis agama-agama. Ia menjadi ajaran paling mendasar dari setiap kepercayaan. Saya menerjemahkan "kesetaraan gender" sebagai "keadilan terhadap perempuan dan laki-laki." Keadilan disini, mencakup seluruh aspek, dari rumah tangga, sosial, politik, ekonomi, tafsir kitab suci, dan lain-lain. Jika kesetaran dan keadilan bisa dianggap semakna, dan bahwa keadilan dalam pengertiannya yang hakiki adalah ajaran agama, mengapa ia dianggap tipuan. Atau bedakah pengertian keadilan antara laki-laki dan perempuan dengan kesetaraan gender?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman saya, keadilan adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, proporsionalitas, ketepatan, dan lain-lain. Kesetaraan, jika bukan pada tempatnya, berarti bukan keadilan dan tentu saja ia bukan kesetaraan. Maka kesetaraan gender yang keluar dari wilayah keadilan dengan sendirinya gugur secara terminologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau arif, kita mestinya menelusuri sejarah lahirnya jargon kesetaraan gender itu. Setahu saya, istilah ini lahir dari sebuah kondisi sosiologis dan politis yang menempatkan perempuan pada kasta rendah, sebagai objek laki-laki, makhluk sekunder, atau sejenisnya. Perempuan dalam kondisi ini mengalami pengebirian hak-haknya; jangankan sebagai perempuan, hak dasarnya sebagai manusiapun ditiadakan, atau minimal dilemahkan. Walhasil, perempuan itu menuntut haknya. Bukankah perempuan dan laki-laki sama dalam hal politik, hak hidup enak, hak melakukan aktifitas ekonomi, hak menerjemahkan kitab suci, hak menjadi imam, hak menonton acara tv yang mendidik, hak tidur enak di kasur, hak istirahat di rumah? Laki-laki dan perempuan adalah manusia yang sama. Bagi saya, dalam konteks inilah keseteraan gender diterjemahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah tidak!, kata teriakan di seberang sana. Sekarang banyak orang yang memaksudkan kesetaraan gender sebagai hak perempuan untuk berkarir, meninggalkan rumah tangga, tidak mau lagi mengurus anak, meninggalkan urusan domestik di rumah, menuntut cerai di pengadilan. Jawab saya, itu konteks lain Bung atau Mbak! Sejatinya, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki untuk mengejar karir, apalagi hanya menjadi anggota DPR. Perempuan juga punya hak yang sama dengan laki-laki di rumah. Carikan saya dalil, atau referensi kitab suci, atau firman Tuhan, yang mengatakan bahwa &lt;strong&gt;kewajiban&lt;/strong&gt; perempuanlah untuk mencuci piring di rumah, untuk tidak menjadi pedagang, bahkan untuk menyusui anak? Saya sudah lama mencari itu....Tidak ada! Ini kita bicara hukum loh ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, sekali lagi, perempuan dan laki-laki, sebagai manusia, punya hak yang sama karena itulah disebut setara. Mereka memang berbeda, tetapi &lt;strong&gt;perbedaan&lt;/strong&gt; itu tidak mengharuskan &lt;strong&gt;pembedaan&lt;/strong&gt;. Pembedaan adalah ketidakadilan sedangkan perbedaan adalah keniscayaan. Karenanya, kita harus mendudukan masalah ini dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kesetaraan gender menurut saya adalah penegakan sikap adil terhadap perempuan dan laki-laki. Perempuan adalah makhluk Tuhan yang punya potensi yang sama dengan laki-laki sehingga keduanya jangan dibedakan. Sehingga seandainya saya yang menjadi panitia kegiatan di buletin Jumat yang saya baca itu, saya akan mengganti judulnya menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Bedah Buku&lt;br /&gt;(Khusus Muslimah)&lt;br /&gt;Keadilan dan Kesetaraan Gender&lt;br /&gt;Tipu Daya Penghancuran Keluarga?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Atau menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Bedah Buku&lt;br /&gt;(Khusus Muslimah)&lt;br /&gt;Reposisi Kesetaraan Gender&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Bedah Buku&lt;br /&gt;(Khusus Muslimah)&lt;br /&gt;Keadilan dan Kesetaraan Gender&lt;br /&gt;Sebuah Pemaknaan Ulang&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Salam Hangat.......&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-5159515018973972663?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/5159515018973972663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=5159515018973972663' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/5159515018973972663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/5159515018973972663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/kesetaraan-gender-tipuan.html' title='Kesetaraan Gender, Tipuan?'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8549993534144690054.post-1419839712400560170</id><published>2007-09-06T11:19:00.000+08:00</published><updated>2007-09-12T11:36:59.499+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Harga Satu Tanda Tangan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dua malam lalu, 4 September 2007, saya mengunjungi seorang teman. Kerjanya adalah pemimpin sebuah perusahaan tambang. Perusahaannya mengelola tambang batubara maupun pasir besi. Kami bercerita cukup lama. Karena pernah kerja di tambang, saya tidak terlalu bertanya perihal operasinya. Teringat adik teman yang pernah cerita tentang lika-liku mendapatkan izin usaha ketika dia bekerja di usaha yang sama, saya kemudian bertanya beberapa hal mengenai "perjuangan" teman itu mendapatkan ijin usaha. Nama teman itu saya singkat saja, Pak PWS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak PWS punya usaha, bekerja sama dengan dengan beberapa pemodal, ada pemodal asing dari Australia misalnya, maupun pemodal Cina Indonesia. Dia punya beberapa usaha tambang batu bara di Kalimantan dari utara sampai selatan, dan sekarang menjajaki usaha tambang biji besi di perbatasan Sulawesi Tengah dan Gorontalo (saya ingin menyembunyikan nama kabupaten disini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai izin usaha, Pak PWS mengaku harus menyiapkan milyaran rupiah pada saat explorasi. Ketika dia memulai misi pertama eksplorasi biji besi di perbatasan Sulteng dan Gorontalo itu, dia harus membayar bupati 100juta. Ini bayaran personal, cash dan tanpa kuitansi. Ketika teamnya datang kedua kalinya, tepat saat pilkada, dia harus membayar 250jt kepada bupati yang juga menjadi calon lagi waktu itu. Sekedar informasi, tahap eksplorasi memerlukan survey sekitar 6 sampai 10 kali. Untuk kasus tambang biji besi ini, Pak PWS membayar hanya sekitar 50 juta untuk survey berikutnya. Ini belum termasuk biaya entertaiment, minimal 4 juta jika membawa muspida ke kafe untuk makan malam. Sewaktu saya tanyakan, dinas apakah yang harus disinggahi untuk mendapatkan izin? Pak PWS mengatakan bahwa dia pling banyak berurusan dengan dinas pertambangan. Biasanya, kepala dinas pertambangan akan diberi amplop dengan isi 10-50 juta. Ingat, tanpa kuitansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kasus di Sulawesi. Bagaimana di Kalimantan? Pak PWS mengatakan, "tarif" yang paling mahal memang ada di sebuah kabupaten di Kaltim. Jika di Kalsel dia hanya membayar bupati sekitar 100-300 juta untuk tanda tangan persetujuan, maka di Kaltim dia membayar seorang bupati 500 juta sekali tanda tangan. Masalahnya, untuk memasuki tahap eksploitasi, perusahaan membutuhkan tanda tangan bupati sekitar 5x. Bayangkan, hanya bupati saja, Pak PWS bisa mengeluarkan uang 2,5 miliar rupiah. Sangat besar bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bupati, kepala dinas pertambangan juga relatif lebih mahal di Kaltim. Biasanya, pada saat persetujuan akhir, "tarif"nya bisa sampai 100-150 juta. Untuk urusan-urusan awal, biayanya relatif sama, hanya antara 5-10 juta. Tetapi pada saat mulai konstruksi, biaya akan bertambah lagi karena perusahaan harus mengurus IMB. Ingat, IMB untuk kantor, mesh, tempat crusher, dan lain-lain, akan beda tarifnya. Akan tetapi, setidaknya pengurusan IMB, HO, dan lain-lain itu punya kuitansi. Namun, di belakang semua itu, ada juga pelicin untuk kepala dinas perindustrian dan perdagangan, biasanya harganya juga sama dengan dinas pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan aparat keamanan? Kata Pak PWS, biasanya aparat keamanan hanya dientertain selama eksplorasi, jarang ada amplop khusus. Tetapi jika ada rapat dan mereka diundang, adatnya mereka harus memberikan amplop dengan isi sekitar 500 ribu per orang. Namun, begitu usaha sudah berproduksi, maka biasanya aparat keamanan, dari kapolres sampai kapolsek, akan diberikan "santunan", biasanya 1-1,5 juta per bulan. Yang celaka adalah, kadang, pada saat pengurusan izin, ada pemerintah daerah yang meminta jatah, misalnya 2,5 dolar US setiap ton batu bara. "Bayangkan Pak Mus," kata Pak PWS, "jika kita produksi 100ribu ton per bulan, maka orang itu akan mendapat 250 ribu US dolar setiap bulan." Saya bertanya, "ada yang begitu Pak?". "Iya!" Pak PWS menjawab dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bupati dan kabupaten yang kami cerita malam itu saya tahu benar. Namun, saya tidak ingin menyebutkan namanya. Dulu, ada adik teman saya yang usaha tambang batubara di Irian dan mencoba menjajaki Kaltim, cukup kaget ketika di sebuah kabupaten dia dimintai uang cash dalam jumlah yang tidak sedikit, padahal dia baru kunjungan pertama. Waw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah cerita kami sedikit. Sangat "menyentuh". Saya bayangkan, jika seandainya uang itu diberikan ke rakyat semuanya, rakyat kita akan berkehidupan cukup. Sayang, "kami tidak punya pilihan lain," kata Pak PWS. Dengan adanya uang pelicin itu, tentu harga produksi akan semakin naik pula, ujung-ujungya efeknya ke negara juga. Tapi itulah negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustamin al-Mandary&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8549993534144690054-1419839712400560170?l=mustamin-almandary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/feeds/1419839712400560170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8549993534144690054&amp;postID=1419839712400560170' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/1419839712400560170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8549993534144690054/posts/default/1419839712400560170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mustamin-almandary.blogspot.com/2007/09/harga-sebuah-tanda-tangan-di-usaha.html' title='Harga Satu Tanda Tangan'/><author><name>Queen Athifah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00709797256965770707</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
