Beberapa hari terakhir, seiring dengan berjalannya proses hukum terhadap Syaukani HR, bupati Kutai Kartanegara yang terdakwa kasus korupsi, beritanya selalu menjadi headline di harian Tribun Kaltim dan Kaltim Post yang terbit di Balikpapan. Di antara berita utama tentang Syaukani yang dicetak dengan ukuran huruf yang besar itu, biasanya akan disisipkan berita pendek, tetapi kadang juga panjang, tentang ritual yang dilakukan oleh teman Syaukani, Ki Gendeng Pamungkas. Hari ini diberitakan, untuk menyerang lawan-lawan Syaukani yang sebelumnya adalah kawan yang kemudian berkhianat, Ki Gendeng melakukan ritual mencampur darahnya dengan darah gagak hitam untuk kemudian ditempelkan di pintu masuk ruang sidang. Jika selama ini Ki Gendeng hanya melindungi Syaukani dari niat-niat buruk dengan melakukan ritual ringan, misalnya menebar tanah kuburan di empat sudut ruang hakim, saat ini Ki Gendeng sudah berada di sequence menyerang lawan-lawan Syaukani secara terang-terangan.
Apakah ada hubungan antara semakin terdesaknya Syaukani dengan strategi Ki Gendeng, saya tidak terlalu perduli itu. Pun ketika ada sedikit perbedaan pemberitaan ritual Ki Gendeng di Kaltim Post dan Tribun Kaltim, saya tidak mau pusing. Yang saya agak pusing adalah, mengapa berita-berita "mistis" itu harus berada di headline? Atau lebih khusus lagi, mengapa berita seperti itu harus dimuat? Di harian Kompas, walaupun memberitakan peristiwa yang sama, saya tidak menemukan laporan berita yang sama. Di Republika, malah tidak ada.
Saya berfikir, masih banyak sisi lain dari kasus ini yang bisa dielaborasi lebih dari sekedar memberitakan kejadian-kejadian kecil yang menyertai persidangan secara detail, apalagi hanya menceritakan penusukan gagak hitam untuk diambil darahnya. Apakah wartawan koran itu tidak punya inisiatif untuk mencari tahu sendiri kira-kira bagaimana kondisi Kutai Kartanegara sendiri pada saat dugaan korupsi itu terjadi? Atau mencari pandangan lain dari pengamat tentang proses hukum Syaukani? Mungkin akan lebih menarik membicarakan plus minus ketokohan Syaukani untuk mendampingi berita utama proses hukumnya.
Atau mungkin setidaknya berita tentang ritual Ki Gendeng itu tidak usah dimuat. Lumayan kan, space beritanya bisa untuk berita lain, atau kalau mau cari uang space-nya bisa menjadi tempat iklan saja. Bagi saya, berita seperti itu tidak terlalu memberikan manfaat, kalaupun ada muatan informasinya, itu tidak signifikan. Mengapa? Saya malah menilai berita seperti itu tidak mendidik. Di dalam pemberitaan sebelumnya, disebutkan bahwa seorang saksi meninggal setelah memberikan kesaksian yang memberatkan Syaukani; kata Ki Gendeng, itu karena kena peletnya. Benarkah? Mungkin benar, tapi marilah mengajar masyarakat untuk berfikir logis. Ki Gendeng mengakui bahwa pada saat awal kasus Syaukani dilimpahkan ke pengadilan, dia tidak melakukan serangan, hanya melindungi Syaukani katanya. Tetapi mengapa harus ada yang mati karena peletnya? Lebih jauh lagi, mengapa harus pelet yang dibahas? Ah... saya malah membahas pelet juga. Walhasil, koran-koran di atas sudah sama dengan kebanyakan film dan sinetron sekarang yang senangnya tema pelet melulu.
Bagi saya, pemberitaan dan informasi mestinya mengandung unsur penting bagi pembacanya: pendidikan dan pencerahan. Inilah yang saya sebut beyond news. Jika media menyediakan berita untuk berita, maka media itu akan kehilangan powernya. Berita mistis yang tidak jelas ukurannya dan tidak tersentuh oleh nalar, atau tepatnya memaksa pembaca untuk keluar dari nalar, akan melestarikan proses pembodohan. Tidak inginkah media untuk mengambil bagian dalam proses pencerdasan masyarakat?
Ah, saya mungkin yang terlalu gila urusan.
Balikpapan, 11 September 2007, 17:25