Alam adalah tempat disebarkannya hikmah, seperti persemaian benih. Hikmah mengucur dari langit laiknya air hujan, karena itulah ia terserak di segala penjuru alam. Kami ingin mencari hikmah di serakan-serakan itu dan menanamnya kembali semampu kami disini, di Taman Hikmah ini.

**************

Dan, terima kasih sudah datang disini. Salama' apoleangatta...... Welcome...... Ahlan wa sahlan......




Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, September 10, 2007

Mempertanyakan Arung Palakka

Di salah satu mailing list, sosok Arung Palakka kembali dimunculkan. Pemunculan itu dimulai dari sebuah tulisan tentang Arung Palakka yang masih dikomentari bahkan setelah hampir setahun. Tulisan ini ingin memberikan salah satu sudut pandang untuk "meramaikan" diskusi seputar Arung Palakka tersebut.
Arung Palakka adalah sosok kontroversial. Dia dianggap pemberontak oleh sejarah Indonesia yang disahkan pemerintahan Suharto, setidaknya sejarah Indonesia sampai pemerintahan SBY-JK. Karena bekerjasama dengan Belanda dalam meluluhlantakkan kerajaan Goa Tallo pada abad ke-16/17 dan mengalahkan Sultan Hasanuddin yang terlebih dahulu sudah disahkan sebagai pahlawan, cukuplah alasan untuk mencapnya sebagai pemberontak. Sampai saat ini, masyarakat yang mendiami bekas wilayah kerajaan Goa Tallo masih memandang sinis terhadap Arung Palakka, bahkan makamnya yang terdapat di Gowa kelihatan tidak terawat karena stereotif ini. Sementara, sekitar 250km dari Makassar, di wilayah Bone, Arung Palakka dipuja-puja sebagai pahlawan yang telah memerdekakan rakyat Bone dari penjajahan Goa Tallo. Namanya bahkan diabadikan dalam syair tradisional dan wajahnya dihidupkan lewat sebuah patung di Taman Bunga di Jalan Merdeka kota Bone.
Menelusuri tulisan Andaya di Warisan Arung Palakka (Ininnawa: 2004), kita bisa mengetahui lebih banyak tentang latar belakang kehidupan dan "pemberontakan" Arung Palakka. Melihat penderitaan masyarakatnya, bersama-sama dengan rakyat dari kerajaan-kerajaan kecil yang menjadi bawahan kerajaan Goa waktu itu, yang dipaksa oleh raja Goa Tallo untuk bekerja membangun benteng kerajaan, timbul keinginan Arung Palakka untuk membebaskan rakyatnya suatu saat nanti. Setelah melarikan diri dan diburu oleh kerajaan Goa dan sekutunya ke berbagai tempat, Arung Palakka akhirnya melarikan diri ke Batavia. Di sanalah dia berkenalan dengan Belanda.
Arung Palakka sadar betul bahwa dia (baca: kerajaan Bone) tidak akan bisa mengalahkan kerajaan Goa tanpa kekuatan senjata. Oleh karena itu, perjumpaannya dengan Belanda menjadi kesempatan bagi dia untuk menggunakan sebuah kekuatan yang bisa mengalahkan kerajaan Goa. Kesempatan itu berhasil. Arung Palakka dengan bantuan Belanda akhirnya bisa menaklukkan kerajaan Goa, membebaskan rakyat Bone waktu itu, bahkan menjadikan Sulawesi bagian selatan menjadi wilayah pemerintahannya. Dari sinilah masalahnya.
Karena bekerjasama dengan Belanda, Arung Palakka kemudian dicap pemberontak. Akan tetapi, di kalangan masyarakat Bone, Arung Palakka adalah seorang pahlawan yang telah membebaskan rakyat Bone dari penjajahan Goa. Saya berfikir bahwa Arung Palakka sama dengan La Maddukelleng bagi orang Wajo. Ketika beberapa lama kerajaan Bone menjajah Wajo, La Maddukelleng tampil sebagai pahlawan yang membebaskan Wajo dari penjajahan itu dan bahkan kemudian menguasai Bone. Kita harus memahami bahwa relasi kerajaan-kerajaan di Sulawesi pada waktu itu adalah relasi atasan-bawahan, bukan hanya Bone (Bugis) - Makassar, bahkan antara Bone (Bugis) - Wajo (Bugis) pun juga seperti itu.
Lalu apakah Arung Palakka adalah pemberontak? Kita harus melihat konteks sosial politik dimana Arung Palakka hidup untuk menjawab pertanyaan ini. Di hadapan masyarakat Bone, Arung Palakka adalah seorang pahlawan besar. Namun demikian, menurut sejarah Indonesia, sampai saat ini Arung Palakka dianggap sebagai pemberontak karena dia telah bekerjasama dengan Belanda, bahwa dia telah mengkhianati bangsa Indonesia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bangsa Indonesia yang mana? Bukankah saat itu bangsa Indonesia belum ada? Tujuan yang diinginkan oleh Arung Palakka ketika bekerjasama dengan Belanda waktu itu hanya satu, membebaskan rakyatnya dari penindasan dan penjajahan Goa. Apakah cita-cita ini bukan sebuah wujud dari "nasionalisme" Arung Palakka yang besar terhadap tanah airnya (baca: Bone)? Saya juga ingin mencatat, hubungan antara Belanda dan Arung Palakka sama dengan hubungan Mandar dengan Goa pada saat Arung Palakka menyerang Goa pertama kali.
Kita bisa memahami kondisi psikososial masyarakat Goa terhadap Arung Palakka pada saat ini. Dia pasti dianggap tokoh yang paling bertanggungjawab terhadap kehancuran kerajaan Goa setelah tertangkapnya Sultan Hasanuddin. Tapi pernahkah kita juga berfikir bahwa kerajaan Bone sudah hancur lebih dahulu karena penjajahan kerajaan Goa?
Disitulah diperlukan kearifan melihat sejarah. Kita harus menumbuhkan sikap kritis ketika kita melihat sejarah masa lalu di masa kini. Sejarah yang telah ditulis selalu memihak, ada latar belakang sosial politik yang mendasari kejadian-kejadian historis yang dituliskan. Membaca sejarah agama lebih menyedihkan lagi. Oleh karena itu, kasus Arung Palakka seharusnya kita baca berdasarkan persfektif abad 17. Apakah itu mungkin? Tentu saja ya, maka marilah kita mengakrabi sumber-sumber sejarah dari mazhab apa saja yang menceritakan tentang Arung Palakka. Kesimpulan yang Anda ambil akan sangat mempengaruhi kedewasaan Anda dalam bersejarah.
Karena itu, ketika membahas ushuluddin, sebuah ilmu tradisional yang membahas masalah-masalah pokok dan pondasi keberagamaan, saya menganggap bahwa belajar sejarah hampir sama pentingnya dengan belajar tentang Tuhan.
Balikpapan,
10 September 2008