Alam adalah tempat disebarkannya hikmah, seperti persemaian benih. Hikmah mengucur dari langit laiknya air hujan, karena itulah ia terserak di segala penjuru alam. Kami ingin mencari hikmah di serakan-serakan itu dan menanamnya kembali semampu kami disini, di Taman Hikmah ini.

**************

Dan, terima kasih sudah datang disini. Salama' apoleangatta...... Welcome...... Ahlan wa sahlan......




Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, Februari 13, 2008

Menyalakan Lampu Motor di Siang Hari

Di Balikpapan, katanya mengikuti peraturan di Surabaya dan beberapa kota lainnya di Indonesia, beberapa waktu lalu diterapkan kebijakan agar semua pengendara motor yang melintas dalam kota "wajib menyalakan lampunya walaupun di siang hari". Sekarang, kebijakan ini sudah diperda-kan.

Terus terang, saya termasuk orang yang tidak setuju dengan kebijakan ini karena saya tidak melihat manfaat, setidaknya alasan yang tepat, dibalik penerapan peraturan itu. Jika dulu semua pengendara motor diwajibkan memakai helm, dan sekarang dilanjutkan dengan wajibnya penggunaan helm "standard", tujuan peraturan itu jelas-jelas bisa dimengerti; sangat jelas: untuk melindungi kepala saat jatuh atau terbentur. Atau keharusan menggunakan seat belt bagi pengendara mobil di bagian depan, itu jelas peruntukannya. Tetapi menyalakan lampu di siang hari, ketika matahari bersinar sangat terik pada jam 12 siang, apakah itu ada gunanya? Ceritanya mungkin lain jika kita berada di tempat yang selalu berkabut, sedang bersalju, dan lain-lain. Namun jelas, kondisi alam ini tidak terjadi di Balikpapan, Surabaya, atau Makassar.

Saya pernah mencari tahu apa alasan pengambilan kebijakan ini. Dari berbagai informasi, baik di lingkungan Balikpapan sendiri maupun dari sumber lain, saya lalu menemukan beberapa hal yang dianggap jawaban. Katanya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecelakaan yang terjadi antara mobil dan motor lebih banyak kasusnya di daerah yang tidak memberlakukan kebijakan ini. Katanya lagi, angka yang ditunjukkan oleh statistik ini lebih sering disebabkan oleh tidak terlihatnya pengendara motor yang berada di belakang mobil atau tidak terlihatnya motor yang berpapasan dengan mobil pada sebuah tikungan. Dengan menyalakan lampu motor, termasuk di siang hari, maka pengendara mobil akan lebih mudah melihat jika ada motor di depan maupun di belakangnya.

Menurut saya, jika benar ini alasannya (mudah-mudahan saja bukan!), maka kebijakan ini merupakan bentuk baru dari pendakwaan salahnya seseorang sebelum proses pengadilan. Ini kezaliman. Kebijakan ini, secara tidak langsung, menanamkan satu stereotip bahwa kecelakaan-kecelakaan lalu lintas antara motor dan mobil selama ini lebih banyak disebabkan oleh kesalahan pengendara motor. Kasihan, sudah makan asap dari mobil orang-orang kaya itu, pengendara motor sudah dicap sebagai penyumbang terbesar dalam kecelakaan antara mobil dan motor. Kata orang Melayu, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Saya mengatakan, jika seorang pengendara mobil di siang hari tidak bisa melihat pengendara motor di belakangnya, apalagi di depannya, saya pikir dia sudah tidak boleh membawa mobil sendiri (to drive). Orang ini, jika bukan karena kerusakan pada indra mata, bisa jadi dia sedang mengalami gangguan pisik lainnya yang menyebabkan matanya tidak bisa melihat dengan baik. Motor di belakang: bukankah mobil diwajibkan memiliki kaca spion kiri kanan dan di depan sopir? Jika motor ada di depan? Atau di sebuah tikungan? Jika Anda membawa mobil tetapi tidak bisa melihatnya, sebaiknya Anda beristirahat di rumah.

Dengan demikian, mestinya yang harus dikampanyekan adalah safety driving yang benar. Sebuah kendaraan sudah didesain sedemikian rupa demi keselamatan pengendaranya. Di mobil ada lampu sain, kaca spion, lampu, dan lain-lain; di motor juga ada kaca spion (yang lebih banyak dipreteli di motor-motor anak muda karna mirip orang berdo'a katanya), lampu sain, dan sebagainya. Hanya saja, memang banyak, bukan hanya pengendara motor tetapi juga pengendara mobil, yang tidak memanfaatkan, atau mungkin juga tidak tahu menggunakan, fasilitas keselamatan itu. Tentu kita sangat jengkel ketika seorang pengendara mobil tiba-tiba memotong depan kita dan berhenti tanpa memberi tanda apa-apa. Inilah yang harus diperbaiki, bukan memasang papan pengumuman:

Safety Riding
Wajib menyalakan lampu motor walaupun siang hari

di sepanjang jalan di dalam kota Balikpapan. Safety Riding adalah menggunakan fasilitas keselamatan berkendara serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada di jalan raya.

Maka wajar saja sejak perda ini pertama sekali diterapkan, banyak yang tidak mematuhinya. Menurut saya, "penolakan" ini terjadi karena peraturannya di luar common sense. Di jalan-jalan, peraturan ini pertama kali diperkenalkan pada plakat-plakat di sepanjang jalan-jalan protokol Balikpapan dengan kalimat "diwajibkan menyalakan lampu motor di siang hari," tetapi beberapa lama kemudian, kalimatnya menjadi "dihimbau menyalakan lampu motor di siang hari." Saya malah terakhir melihat, plakat-plakat pengumuman itu sudah diganti dengan pesan, "diwajibkan menggunakan helm standard baik pengemudi maupun yang dibonceng." Nah, kalau yang ini, saya sangat setuju!

Mestinya, sebelum membuat peraturan, saya pikir pertama sekali yang harus dijawab adalah untuk apa dan mengapa peraturan itu dibuat. Maka marilah kita menyalakan lampu motor di malam hari.

Jumat, November 09, 2007

Ulang Tahunku yang ke-33

Hari ini saya berulang tahun yang ketigapuluhtiga. Rasanya saya sudah semakin tua.

Saya memulai hari ini dengan indah. Saya dibangunkan dengan ucapan selamat ulang tahun dan kecupan hangat dari istri saya. Sebelum berangkat kerja, saya menggendong dua bidadari kecil saya, dan merekalah hadiah ulang tahun yang paling berharga buat saya pada tahun ini.

Seorang adik dari Makassar mengirim sms ucapan selamat, katanya dia tidak punya kata-kata yang tepat untuk menyelamati, kecuali doa agar cita-cita saya tercapai. Kubalas dengan ucapan terima kasih, dan jawaban bahwa "waktu saya sudah semakin sedikit, tetapi kerinduan saya untuk bisa melakukan sesuatu buat orang lain belum terwujud."

Siang ini, istri saya menelpon, katanya beliau sudah ada di parkir kantor. "Ada apa dia tumben datang siang-siang begini mau memberi sesuatu?" pikirku. Saya suruh masuk saja. Dan, ternyata istri saya datang bersama kemenakan membawa kue ulang tahun. Ah, saya malu sekali. Saya belum pernah dikejutkan begini seumur-umur; jangankan diberi hadiah kue ultah, mengingat hari ulang tahun di kampungpun tidak. Saya malu akan diolok-olok teman. Walhasil, saya memberikan penyambutan yang tidak seharusnya kepada istri saya karena rasa malu itu. Walaupun setelah pulang saya mengirimkan sms kepadanya dan meminta maaf karena sambutan saya tidak sepadan dengan keinginannya untuk mengejutkan, tapi saya merasa istri saya sudah kecewa. Saya bilang, saya tidak siap dikejutkan begini. Saya ingin meminta maaf lagi kalau pulang ke rumah nanti, dengan kecupan.

Hari ulang tahun yang indah. Saya ingin mencoba lagi agar hari-hari saya begini seterusnya. Semoga saja saya bisa.

Oh, Hukum itu Begitu?!

Kemarin, 8 Nopember 2007, saya bersama lima orang teman, memenuhi panggilan kejaksaan untuk memberikan kesaksian atas "laporan masyarakat" perihal penyelewengan pembelian barang di lingkungan perusahaan. Sayangnya, tidak disebutkan siapa yang melaporkan. Kata teman dari legal advisor, menurut hukum, memang bisa begitu.

Kami datang, sesuai surat undangan, pada jam 9 pagi. Sekitar jam 10-an, barulah salah seorang teman dipanggil ke dalam ruangan interview. Dan saya, baru dapat giliran pada jam 2.30 sore. Bayangkan, saya duduk disana dari jam 9 pagi sampai 2.30 sore itu for waiting. Saya berfikir, betapa tidak produktifnya saya hari ini, celakanya saya tidak membawa satu bukupun untuk dibaca. Akhirnya saya membunuh kejenuhan dengan cerita sama teman, dan sesekali main game di handphone.

Tiba juga akhirnya giliran saya. Saya langsung disodori beberapa pertanyaan tulisan. Selanjutnya, saya harus menjawab pertanyaan secara lisan yang akhirnya jawaban lisan saya tulis kemudian, atas permintaan penyidik. Ah, menjawab dua kali pikirku. Ini beberapa cuplikan interviewnya

"Pak Mustamin, tahu project North Bravo?"
"Project yang mana Mas? (saya memanggil Mas karena saya anggap penyidiknya masih muda. Ini cara saya memanggil orang). North Bravo itu salah satu anjungan. Disana sudah banyak project sejak 30 tahun lalu. Nah, maksud pertanyaan ini project apa? Bisa membantu dengan sedikit penjelasan?"
"Ya project North Bravo?"
"Wah, kalau semuanya saya tidak tahu Mas. Saya mulai bekerja disana pertengahan tahun 2004 sampai pertengahan 2007. Dalam kurun waktu itu, saya bisa ceritakan karena sayalah project leadernya."
"Coba ceritakan salah satunya saja."
"Yang mana Mas? Dalam surat pemanggilan, saya tidak tahu dipanggil karena project yang mana. Saya juga ini bingung? Tapi kalau menyebut satu contoh selama masa kerja saya, bisa; cuman, apakah ini maksud pemanggilan ini atau tidak, saya juga tidak tahu."
Saya melihat jaksanya agak pusing juga. Saya kemudian mencairkan suasana setelah melihat foto-foto pelapor yang ada di depan jaksa muda itu.

Walhasil, wawancara berlangsung begitu-begitu saja, penanya tidak tahu apa yang ditanyakan; sementara yang ditanya juga tidak tahu maksud pertanyaan. Jaksa telah menerima laporan dari masyarakat, tetapi mereka tidak punya cara memverifikasi dan bagaimana cara menindaklanjuti laporan itu, khususnya dari sisi teknis. Dalam wawancara ini saya berkali-kali menyampaikan, saya berbicara bukan sebagai saksi fakta, karena mereka menanyakan hal-hal yang sama sekali saya tidak terlibat di dalamnya, sebuah project yang dieksekusi jauh sebelum saya masuk ke perusahaan saya sekarang. Tetapi mungkin, pelaksanaan hukum di negri ini begitu.

Di warung makan, saya ngobrol dengan teman legal advisor yang menemani kami. Katanya, hukum perdata dan pidana kita masih banyak mengadopsi hukum Belanda yang bahkan di Belanda sendiri sudah diperbarui lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saya sempat komplein bahwa saya telah menghabiskan waktu seharian disini, tidak membuat apa-apa, dibiarkan, tidak "diberi" apa-apa, tidak ada kompensasi sedikitpun. Ini ada opportunity lost, kataku sedikit jago. "Tidak, sebenarnya ada uang transport untuk setiap orang yang dipanggil bersaksi, tapi Pak Mus mau dikasih Rp. 25?" demikian penjelasan dan pertanyaan teman yang tidak perlu saya jawab.

Dalam pandangan saya, mestinya kejaksaan itu punya orang teknik, ekonomi, IT, dan lain-lain di dalam tim penyidikan. Dalam kasus yang saya datangi ini, sepertinya jaksa tidak mengerti yang ditanyakannya. Saya yang malah cenderung men-drive percakapan. Walhasil, penyidikan tidak mendapatkan hasil. Selain itu, saya pikir semua laporan harus diverifikasi dulu kepada pelapornya sebelum ditindaklanjuti. Bahkan, menurut saya, bagusnya pelapor dihadirkan bersama dengan saksi seperti saya ini, agar jelas tujuan pertanyaan dan penyidikannya. Sayang, hukum kita tidak mensyaratkan itu, katanya untuk melindungi pelapor katanya. Tapi mestikah begitu?

Ternyata hukum seperti itulah. Bentuknya sangat harfiah. Semua orang bisa "berkelit" bahkan "memelintir" teks. Maka tidak heran jika pelaku illegal logging kemudian bebas dan anehnya hakim mengatakan bahwa mereka siap mempertanggungjawabkan keputusan mereka secara hukum. Tentu saja, mereka lebih mengerti hukum. Dan hukum tidak mengenal perasaan.

Senin, Oktober 01, 2007

Surat Untuk Nayla (1)

Salamun 'alaykum.

Adik Nayla, gimana kabarmu? Puasamu baik-baik saja kan? Jangan lupa mendoakan Kakak di malam Laylatul Qadr ya, biar Kakak dan keluarga diberikan kekuatan oleh Allah untuk menjadi lebih baik. Nayla, Kakak menulis surat ini karena semalam tiba-tiba Kakak merasa harus menuliskannya. Atau mungkin tepatnya Kakak merasa ingin menuliskannya. Biar jadi sejarah kan?

Pembicaraan kita kemarin perihal sekolahmu mungkin pembicaraan paling serius yang pernah Kakak ingat. Mungkin karena Kakak berfikir bahwa sekarang kamu berada di posisi injury time untuk bisa menyelesaikannya. Jangan sergah dulu apa yang disebut menyelesaikan itu! Kamu akan mengerti setelah membaca habis isi surat ini.

Kita sependapat bahwa pendidikan bukanlah hanya di kelas, bahwa ijazah bukan ukuran berpendidikan atau tidaknya seseorang. Bukankah banyak orang berpendidikan yang ternyata menipu, atau banyak orang yang memalsukan ijazahnya agar bisa menjadi anggota dewan? Sekali lagi, kita tidak menyelesaikan perbedaan pandangan masing-masing dalam hal itu, karena toh kita mempunyai pandangan yang nyaris sama.

Apa yang Kakak sampaikan kemarin itu hanyalah karena Kakak ingin berperan sebagai orang tua kita di kampung. Kakak merasa, Kakak mengerti perasaan kamu dalam hal ini, dan pada saat yang sama Kakak juga mengerti perasaan Ibu dan Ayah. Namun, itulah yang menjadi kecelakaan buat Kakak, karena kalian justru "berseberangan," setidaknya itu yang kelihatan.

Kamu pasti tahu sekali bahwa tidak ada yang paling diharapkan Ibu dan Ayah dari kamu selain menyelesaikan sekolahmu. Bagi mereka, kata selesai itu adalah kamu pulang membawa ijazah, bukan pulang membawa ilmu yang abstrak itu. Ibu tidak bisa melihat ilmumu, tetapi dengan gampang beliau bisa melihat ijazahmu. Kakak sudah pernah mencoba menjelaskan kepada Ibu dan Ayah perihal pendapatmu, yang juga pendapatku, tentang ilmu dan ijazah yang sering kita diskusikan itu, tetapi mereka hanya bisa mengerti jika kamu pulang dengan ijazah. Titik.

Kakak akhirnya berfikir, kalau mau membuat mereka senang, kamu tidak punya pilihan lain kecuali menyelesaikan sekolahmu secara formal. Tentu saja kamu punya pilihan lain untuk mengatakan "tidak perlu!", tetapi itu pasti akan mengecewakan mereka. Kakak pernah mendengar Ayah menyatakan kepasrahannya, bahwa kalaupun kamu pulang tanpa ijazah, beliau siap walaupun berat, bukankah Kayla juga pulang ke rumah tanpa menyelesaikan sekolahnya dan tanpa membawa ijazah?

Kakak mengingat kata-kata Ayah itu semalam. Ayah siap rupanya, walaupun berat; tetapi Ibu tidak. Kakak lalu membuat perumpamaan. Anggaplah ijazah itu seperti sesuatu, baju baru misalnya. Karena kamu lebih sederhana dalam berpakaian, kamu tidak ingin membeli baju baru untuk lebaran nanti, tapi kamu mengumpulkan uang untuk membelikan baju buat Ibu dan Ayah. Untuk apa kamu membelikan mereka baju? Tentu saja agar mereka senang karena mereka merindukan punya baju seperti itu sudah lama.

Jadi, ijazah itu bukan untuk kamu. Ijazah itu buat Ibu dan Ayah. Kamu, dan saya setuju itu, tidak butuh ijazah itu, tetapi Ibu dan Ayah membutuhkannya. Tidak inginkah kamu membahagiakan mereka sekali ini? Mereka cukup kecewa dulu ketika Kayla pulang dan memutuskan untuk tidak "menyelesaikan" sekolahnya. Apakah kamu ingin membuat mereka kecewa dua kali?

Kamu bilang kamu tidak bisa menyelesaikan sekolahmu hanya untuk pura-pura, atau hanya untuk bersandiwara seperti yang Kakak istilahkan dalam sms kepada kamu beberapa hari lalu. Istilah itu mungkin memang kurang tepat. Tapi Kakak pikir, tidak bisakah kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kita tidak terlalu suka tetapi kita melakukannya demi membahagiakan orang yang sudah berkorban banyak buat kita? Apalagi itu orang tua kita sendiri?

Kakak yakin kamu bukan tidak bisa menyelesaikan sekolahmu. Kamu hanya tidak mau karena kamu tidak punya motivasi untuk itu, setidaknya kamu punya motivasi dengan arah yang lain, atau beda defenisi. Kamu bilang bahwa kamu tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan idemu. Mengapa kamu belajar jadi egois? Hanya satu driver yang selalu Kakak sebutkan, lakukanlah semuanya demi membahagiakan orang tua kita. Hanya itu. Belikanlah baju Ibu dan Ayah walaupun kamu sendiri tidak ingin memakai baju itu.

Atau mungkin Kakak bisa memberikan saran. Pulanglah ke rumah. Bicaralah baik-baik sama Ibu dan Ayah. Sampaikanlah apa yang kamu pikirkan. Mudah-mudahan mereka mau menerima. Terus terang, Kakak sudah pernah melakukan itu, tetapi Ibu tidak bisa mengerti, setidaknya waktu itu. Mungkin saat itu waktunya memang terlalu singkat.

Tapi ada satu hal yang Kakak fikir. Mungkin kamu sudah punya cita-cita sendiri bagaimana membahagiakan Ibu dan Ayah dengan caramu sendiri. Tapi yakinkah bahwa kamu pasti bisa mewujudkannya nanti? Kakak sendiri tidak pernah bisa memastikan masa depan. Yang Kakak bayangkan adalah, jika sekiranya caramu itu tidak berhasil, maka kamu gagal dua kali. Tetapi jika kamu membahagiakan Ibu dan Ayah sekarang dengan cara yang diinginkannya dan kamu berhasil, setidaknya kamu sudah berhasil sekali.

Mungkin itu saja dulu. Kakak mau melanjutkan pekerjaan lagi. Salam sama Enny kalau dia datang lagi.

Kamis, September 27, 2007

Timpang

Kemarin, 26 September 2007, benar-benar hari yang tidak mengenakkan di rumah kami. Sekitar jam 2-an siang, saya yang lagi menemani teman-teman meeting, di telepon oleh istri.
"Pua', ada surat dari PLN. Isinya mengatakan, karena kita telat membayar rekening listrik, maka mulai hari ini listrik di rumah diputus. Sekarang lagi mati lampu, tetapi setelah hidup nanti, listrik di rumah tidak akan bisa menyala lagi."
"Lalu?", tanya saya mengorek isi surat.
"Kita harus bayar dulu, ditambah biaya denda dan biaya pemasangan kembali, setelah itu baru bisa hidup kembali."
Saya meminta istri saya untuk segera membayar.
"Tapi sekarang sudah tutup semua tempat pembayaran, sudah jam 2.30 ini", jawab istriku mulai panik.
"Tidak. Sekarang pergi ke Klandasan. Di samping kantor PLN, ada tempat pembayaran yang buka sampai jam 10 malam. Bayar saja disana. Kalau bisa, telpon dulu PLN agar kita bisa selesaikan ini dengan baik-baik. Kita kan baru telat enam hari" (Ternyata, batas terakhir pembayaran listrik disini adalah tanggal 20 setiap bulannya, kami baru menyadari itu)

Istri saya sempat menelpon ke PLN.
"Pak, kok tidak ada pemberitahuan awal kalau mau diputus? Ini kan baru telat enam hari. Lagian kami kan selalu bayar setiap bulannya."
"Surat peringatannya ya yang dibawa itu", kata petugas PLN.
"Tapi kok langsung?"
"Ya memang begitu!"
Istri saya mulai tidak tahan, "enak sekali ya, sudah mati hampir tiap hari, kita yang telat bayar baru enam hari langsung diputus."
"Ya sudah, putuskan saja sekalian listriknya selama-lamanya," kata petugas PLN menutup pembicaraan.

Istri saya kemudian ke Klandasan, dan alhamdulillah dia bisa menyelesaikan pembayaran hari itu. Sebenarnya beliau mau membayar dua hari lalu, tetapi karena loket pembayaran di dekat kantor istri saya mengalami masalah network hari itu, rencananya baru mau bayar hari ini. Ternyata masih rusak. Dan datanglah orang-orang PLN itu, seorang laki-laki dan dua orang perempuan, memutuskan aliran listrik di rumah tanpa ampun.

Selesai pembayaran, kami kemudian menelpon ke PLN yang membawahi masalah pemutusan ini di bagian Balikpapan Utara. Sekitar jam 3 sore, saya menelpon kesana menyampaikan bahwa kami sudah menyelesaikan pembayaran. Janjinya, mereka akan menyambung kembali. Tetapi ketika saya sampai di rumah jam 5.30, pemutusan masih belum disambung kembali. Saya menelpon lagi, dan janjinya akan disambung kembali secepatnya. (Sesuai pengalaman, saya kurang percaya jawaban-jawaban begini).

Untungnya hari itu kami mengadakan buka puasa di Graha Azzahra. Disana saya kemudian mencari tahu apakah ada teman yang memiliki koneksi di PLN. Dan syukurnya, ada Ali Mulyadi yang mengenal Pak X di PLN. Dengan bantuan Pak X-lah akhirnya listrik kami disambung kembali sekitar jam 7 malam.

Hari ini benar-benar tidak mengenakkan. Saya kasian sama anak-anak, mereka gerah jika mati lampu di rumah. Saya malah tidak fokus di meeting tadi siang, bahkan meninggalkan buka puasa di Graha Azzahra sebelum makan. Malamnya Pak X menelpon, "Bulan depan jangan lupa lagi Pak Mus ya. Memang begitu sekarang Pak. Kami ditugaskan untuk menyelesaikan tunggakan. Sebenarnya kalau Bapak ada tadi, petugas tidak akan memutus kalau Bapak siap menyelesaikan hari ini." (Tadi siang itu, Pak Margono sudah mengatakan kepada petugas bahwa kami akan bayar hari ini, tetapi tetap saja diputus).

Saya membandingkan antara pelayanan bank dan telpon dengan pelayanan PLN ini. Karena sekarang Telkom punya kompetitor, layanan Telkom baik sekali. Jika kita mengadu, langsung difollow up, mungkin mereka khawatir kita pindah ke provider lain. Di bank, yang karena memiliki banyak pesaing, nasabah sangat "dihormati." Tapi dengan PLN yang memonopoli listrik, hari ini kami merasa benar-benar dianiaya. Kami mengaku salah, tapi ini baru sekali dan pelayanan PLN di Balikpapan jauh lebih buruk. Tidak imbanglah antara kesalahan kecil kami dengan kesalahan besar PLN. Ketidakimbangan itulah yang membuat kami merasa dianiaya. Di kota yang notabene kaya minyak dan gas ini, listrik harus dipadamkan bergiliran setiap waktu. Di satu kompleks, listrik akan mati minimal 4x seminggu. Bayangkan, ini sudah berlangsung tiga tahun.

Dan malam itu, setelah menyala beberapa jam, listrik padam lagi beberapa jam. Benar-benar timpang. Kapan ya hak menjual listrik diberikan kepada perusahaan lain agar PLN (Balikpapan) belajar melayani dengan baik?

Rabu, September 19, 2007

Teknologi Yang Memudahkan

Hari ini, pagi menjelang siang, saya ingin mengambil uang di ATM Niaga di dekat kantor. Sayangnya, sesampainya di ATM, ternyata ATMnya sedang out-of-service, ada perbaikan seperti tertulis di kertas yang ditempel di pintu masuk. Wah bagaimana nih? Padahal pembayaran tiket cuti keluarga deadline-nya hari ini. Kalau tidak dibayar, bisa dibatalkan.

Saya kemudian memainkan ATM yang masih saya pegang. Mata saya kemudian melihat beberapa logo di ATM itu, ada logo ATM Plus, ATM Bersama, dan Visa Electron. Saya kemudian teringat bahwa saya pernah melihat iklan, entah bank apa, yang mengatakan "nikmati transaksi gratis di semua ATM Bersama di seluruh Indonesia."

Saya kemudian mencoba memasukkan ATM Niaga saya ke ATM Mandiri yang ada di dekat ATM Niaga itu. Masuk! Pilih menu, dan saya bisa ambil uang. Alhamdulillah, saya bisa bayar tiket dan tidak perlu keluar dari kompleks kantor. Mana panasnya matahari siang ini minta ampun lagi....

Selesai mengambil uang, saya ingat Ibu saya pernah menelpon, katanya dia butuh uang. Saya coba lagi transfer uang ke Bank BNI dari ATM Mandiri dan menggunakan ATM Niaga. Sukses! Terakhir saya mengirimi adik sepupu uang pembeli buku, ke bank Mandiri. Semuanya tanpa biaya.

Masya Allah. Enaknya punya teknologi seperti ini, memudahkan. Jika masih seperti dulu, saya harus mencari ATM Niaga di luar untuk bisa ambil uang. Untuk bisa transfer ke bank BNI, saya harus ambil uang dan setor di Bank BNI, atau saya transfer langsung dari Niaga ke BNI dan dikenakan biaya administrasi. Sekarang, semuanya bisa dilakukan, dengan satu ATM saja, dan tidak perlu ada charge.

Semestinya teknologi seperti itu: memudahkan dan menenteramkan, dua syarat wajib. Teknologi yang memudahkan tetapi berbahaya, mungkin seperti PLTN yang lagi heboh itu, tentu tidak menenteramkan. Teknologi juga mestinya dimanfaatkan untuk kemaslahatan, bukan untuk menipu seperti maraknya penipuan lewat internet dan telepon genggam. Dan adalah tugas kita untuk mengembalikan teknologi itu ke fungsi yang benar.

Balikpapan, 19 September 2007; 14:45