Alam adalah tempat disebarkannya hikmah, seperti persemaian benih. Hikmah mengucur dari langit laiknya air hujan, karena itulah ia terserak di segala penjuru alam. Kami ingin mencari hikmah di serakan-serakan itu dan menanamnya kembali semampu kami disini, di Taman Hikmah ini.

**************

Dan, terima kasih sudah datang disini. Salama' apoleangatta...... Welcome...... Ahlan wa sahlan......




Rabu, November 28, 2007

Tragedi si Anak Durhaka

Tulisan ini adalah artikel budaya yang dimuat di harian Kompas tgl 28 Nopember 2007. Saya merasakan kegelisahan yang sama perihal sepak terjang Malaysia dalam beberapa waktu terakhir. Ketika membaca artikel ini, saya melihat Mohammad Sobary marah dengan cara yang cantik; sungguh saya sangat suka cara marah seperti ini. Karenanya, saya meng-copy dan memuatnya disini.

***************

Tragedi Si Anak Durhaka
Mohamad Sobary


Di dalam kebudayaan kita tersimpan kekayaan moral yang melimpah. Kekayaan itu terpelihara dengan baik di dalam masyarakat kita karena kita memiliki sistem dan mekanisme pewarisan nilai-nilai kebudayaan yang hidup dan berkembang melintasi batas-batas abad dan generasi. Menurut rumusan bijak Minangkabau, sistem tersebut tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas.

Sistem pendidikan tradisional kita—yang sebagian besar kita pelihara di dalam kehidupan keluarga di daerah-daerah pedesaan yang masih bersifat komunalistis—secara seimbang ditumpukan pada tiga dimensi sekaligus, yaitu dimensi kognitif, afektif, dan evaluatif. Di sana—pada intinya—kecerdasan otak (dimensi kognitif) dan kecemerlangan jiwa (dimensi afektif) baru ada maknanya apabila keduanya dapat diwujudkan secara nyata di dalam hidup keseharian kita menjadi dimensi evaluatif. Maksudnya, kita tak boleh hanya omong. Kita tak boleh hanya berteori dan berangan-angan.

Kecuali itu, sistem pewarisan nilai-nilai kebudayaan tadi tercermin tidak saja di dalam pendidikan resmi melalui sistem persekolahan, melainkan juga di dalam kehidupan kesenian kita, termasuk unsur seni bela diri.

Di dalam seni ini muatan moral tadi tersirat, tetapi jelas bagaikan tersurat: guru silat masih selalu menyisakan satu dua jurus yang tak diajarkan pada murid buat berjaga-jaga mengatasi bilamana ada murid durhaka yang melakukan pemberontakan melawan guru dan perguruannya.

Seluruh bangsa yang disebut rumpun Melayu paham akan perkara ini. Bangsa China yang besar lebih paham lagi. "Wisdom" dunia seni bela diri yang diangkat dari novel-novel silat menjadi tema heroik di dalam seni perfilman. Maka, muncullah film-film silat dari negeri China yang dahsyat dan juga film silat dari negeri kita sendiri.

Seni mengatur negara, seni sastra dan seni bela diri, di zaman lampau merupakan satu rangkaian yang tak terpisahkan. Negara yang kuat membutuhkan tentara, pesilat-pesilat tangguh, ahli seni di bidang taktik dan strategi politik, dan seniman di bidang sastra yang mendalam dan mahir menuliskan kisah-kisah sang raja dan keluarga bangsawan menjadi kisah memikat hati.

Kalau begitu, sempurnakah kebudayaan kita?

Tidak. Dilihat dari segi munculnya anak durhaka macam Malin Kundang, terbuktilah bahwa ada yang kurang dalam kebudayaan kita.

Namun, dilihat dari ungkapan bijak masa lalu, yang mengatakan "bukan salah bunda mengandung, buruk suratan tangan sendiri" jelas bagi kita bahwa Si Malin Kundang menjadi anak durhaka bukan karena salah kebudayaan. Malin Kundang muncul dalam kebudayaan bukan karena ia pada dasarnya anak salah asuhan.

Oleh karena itu, kebudayaan merasa berhak mengutuknya menjadi batu agar anak durhaka tak dilahirkan kembali oleh proses sosial-ekonomi kapitalistis yang memang angkuh, terlalu percaya diri, tetapi tak cukup tahu diri seperti tetangga kita.

Rumusan moral kita jelas: terkutuklah semua anak durhaka. Dan, kita tak perlu lagi berpayah-payah mengutuk mereka? Kita cukup menjadi orang tua yang bijak, guru yang sabar, dan tak perlu risau menghadapi kedurhakaan anak atau muridnya?

Saya tidak tahu. Namun, saya tak mau menjadi orang tua dan guru seperti itu. Saya harus bertindak. Saya akan selalu memegang pedang untuk mengusir semua anak dari "neraka". Maksudnya, saya akan mencegah anak-anak berbuat durhaka supaya mereka tak harus mengalami tragedi mengenaskan, menjadi batu menangis.

Sikap saya ini terakomodasi dengan baik di dalam ungkapan lama juga: "Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah". Maka, saya pun menyanggah sikap durhaka itu.
Tetangga kita itu mengejek kita Indon. Mereka tak tahu bahwa bila Indon itu dicarikan kata lainnya yang serumpun, misalnya Indu; maka kita ini berarti bulan. Dan, bulan itu cantik.
Jadi, kita bukan sekadar truly Asia karena truly Asia pada dasarnya hanya truly Malingsia. Sebaliknya, kita "truly Indu", sungguh-sungguh bulan yang cantik memesona.

Dan, kalau Indon itu makssudnya Indun, maka artinya juga mentereng: sapaan penuh sayang. Sebaliknya, kalau Indon itu Indus, dan bertemu dengan nesos, jadilah Indos nesos, atau Indonesia. Indus artinya air, yaitu lautan-lautan kita yang cantik, biru memesona. Nesos, artinya pulau-pulau, yang sebagian sudah mereka maling.

Ini tindakan durhaka. Kita dulu guru mereka. Ketika agak makmur secara ekonomi, mereka merasa sudah pandai. Padahal, ternyata belum tahu etika bertetangga yang baik. Dalam perkara ini saya heran, mengapa pemerintah dan rakyatnya sama-sama congkak, cingkak, dan angkuh?

Mereka hendak belajar mengelola minyak dan kita bersedia menjadi guru yang baik hati. Mereka minta diajari bikin kantor berita dan kantor berita Antara menjadi guru yang pemurah. Ini semua karena semangat untuk mengajari orang-orang bodoh agar kita bisa menerangi mereka dengan cahaya ilmu.

Akan tetapi, mereka lupa kebaikan kita. Bukan salah bunda mengandung, buruk suratan jelas hasil kecongkakan mereka sendiri. Bangsa apa tetangga kita ini? Karena saya berguru kepada bangsa dan negara Australia, sikap saya kepada mereka sangat hormat. Banyak warga kita yang juga hormat sekali kepada bangsa dan negara Amerika karena mereka berguru di sana. Begitu pula mereka yang belajar di Inggris, di Perancis, Belanda, Rusia, Denmark, Norwegia, dan di negara-negara Eropa lainnya.

Kenapa kita memiliki satu murid saja menjadi murid durhaka? Tak tahukah mereka pesan tersirat dalam dongeng-dongeng moral yang menggambarkan betapa tragis akibat tindakan durhaka?

Tak tahukah mereka, tragedi anak durhaka itu menjadi batu, yang selalu menangis karena menyesal, tetapi sesal itu tak berguna?

Sudah berkali-kali mereka meludahi wajah kita. Namun, pemerintah kita yang sangat bijaksana itu diam saja. Sombonglah terhadap bangsa yang sombong karena melawan kesombongan dengan sikap sombong itu sedekah.

Dan, ke mana pula pemuda-pemuda yang merasa dirinya sudah siap memimpin itu? Mengapa pemimpin bisu terhadap isu-isu internasional yang sangat menginjak harga diri dan martabat bangsa kita? Apa beda mereka dengan orang tua? Dikemanakan jiwa Bung Karno yang heroik dan patriotik?

Jangan biarkan mereka menjadi batu. Selamatkan bangsa Fir’aun itu dengan tongkat Musa di tangan kita agar mereka tak tenggelam ke dalam lautan kesombongan mereka sendiri. Selamatkan mereka, setidaknya Anwar Ibrahim dan keluarganya, agar kita tak dipersalahkan dunia. Anwar dan keluarganya bukan bagian dari pencuri itu. Dan, dia bukan si anak durhaka.

Mohamad Sobary, Budayawan

Rabu, November 21, 2007

Betapa Sering Tuhan Diajak Maksiat

Saya kaget sekali lagi pagi ini. Kompas online memberitakan, seorang Bapak di Kolkata, dulu Kalkutta, India, dibebaskan dari tuduhan bahwa dia mengawini anak kandungnya karena tidak cukup bukti. Tapi bukan itu yang mengagetkan saya, justru yang menikam sumsum adalah pengakuan Afazuddin Ali (36) sang Bapak, bahwa apa yang dilakukan itu bukanlah kriminal, "semua dilakukannya karena perintah Tuhan."

Sekarang, banyak orang yang mengaku menerima perintah Tuhan langsung. Ahmad Mosaddeq, yang menghebohkan Indonesia dengan al-Qiyadah-nya juga mengaku menerima perintah Tuhan. Tapi ini masih "tidak seberapa." Yang mencengangkan adalah, banyak kejahatan yang dilakukan atas nama Tuhan, seperti kejahatan Afazuddin ini. Dalam konteks yang hampir sama, meledakkan bom dan melukai orang-orang tak berdosa di tempat yang tidak ada peperangan, juga adalah kejahatan atas nama Tuhan.

Mengambil contoh kasus di Kolkata ini, betapa tidak cerdasnya orang beragama. Atau agama hanya dijadikan tameng untuk menutupi dan memoles kejahatan? Yang paling durhaka adalah menyebut-nyebut Tuhan untuk menjustifikasi perbuatan buruk yang dilakukan seseorang. Lalu sedemikian burukkah wajah agama itu?

Setiap komunitas pasti memiliki anggota yang jumud dan anggota yang rasional. Sayangnya, agama lebih sering dilihat dari orang-orang jumudnya. Namun bisa jadi, kejumudan Afazuddin itu justru lahir dari pemahamannya yang "mendalam" terhadap agama. Dan dalam situasi ini, orang yang paling bertanggungjawab adalah ulama.

Cara yang paling sederhana untuk menguji klaim seseorang bahwa perbuatannya adalah perintah Tuhan adalah nilai keadilan dalam perbuatannya tersebut. Artinya, perbuatan itu adalah perintah Tuhan jika keadilan inheren di dalamnya, tidak perduli perintah itu datang darimana : kitab suci, mimpi, taqlid kepada ulama, dan lain-lain. Di dalam pengujian ini, kita mensyaratkan keadilan Tuhan di dalam perbuatan yang dianggap sebagai perintah Tuhan itu. Jika tidak, klaim itu pasti kebohongan.

Sayangnya, selama ini kita jarang diajari konsep keadilan Tuhan, kalaupun ada, terdapat pemelintiran yang bisa menjebak. Mazhab-mazhabpun beragam dalam menjelaskannya. Yang parah adalah ketika dikatakan bahwa tidak ada syarat keadilan di dalam perbuatan Tuhan, semua yang dilakukannya pasti adil. Jadi jikapun Tuhan memasukkan pendosa ke dalam surga, itu pasti adil; atau jika Tuhan memasukkan ahli ibadah ke dalam neraka, itu juga adil.

Keadilan, dalam pengertiannya yang mendasar, adalah keproporsionalan dan kepatuhan untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tapi itu bukan berarti bahwa jika Tuhan itu adil, maka kita memaksanya untuk patuh kepada keadilan. Tidak! Tuhan itu adil dalam dzatNya maka apapun yang dilakukannya adalah adil. Keadilan bersumber dari Tuhan, maka keadilanNya bukanlah sesuatu yang lain dari diriNya. Ketika kita mengatakan bahwa Tuhan pasti adil, itu bukan berarti bahwa Tuhan disyarati kepatuhan, karena yang kita syaratkan Dia patuhi adalah Dzatnya sendiri.

Nah, akal sehat mengatakan bahwa tindakan Afazuddin yang menikahi anaknya sendiri merupakan tindakan yang tidak proporsional. Jika benar itu adalah perintah Tuhan, tindakan itu telah melanggar konsep keadilan Tuhan. Ini kontradiksi. Bahkan di dalam teks agamapun yang merupakan perintah Tuhan yang diformalkan, tidak ada perintah seperti itu. Kesimpulannya, ini pasti kebohongan yang nyata. Celakanya, Tuhan telah diseret untuk melakukan kebohongan itu.

Betapa sering Tuhan diajak berbuat salah.

Selasa, November 13, 2007

Orang Kecil-lah Yang Besar

Pernahkah Anda memikirkan peran tukang sapu jalan? Atau membayangkan para pekerja yang mengambil sampah kita setiap hari di rumah? Atau mungkin pembantu dan baby sitter kita? Perawat? Pemadam kebakaran?

Sewaktu saya ke Makassar beberapa waktu yang lalu, ternyata di kompleks kami pengelolaan sampah sudah ditangani sendiri oleh RT. Developer yang dulu berjanji akan menangani ini, sudah angkat tangan (mungkin sudah tidak ekonomis). Akhirnya, dari jadwal pengambilan sampah seminggu tiga kali, sekarang sampah di depan rumah hanya akan diambil seminggu dua kali, itupun kadang hanya seminggu sekali. Ketika memandang tumpukan sampah di hari kelima, saya baru sadar betapa butuhnya kita tukang sampah itu. Mereka mungkin berbau busuk karena bersentuhan dengan sampah yang paling kotor setiap hari, tetapi mereka justru telah menjauhkan kita dari sampah dan penyakit yang kita takuti dengan mengorbankan dirinya sendiri. Mereka adalah lilin.

Setelah perayaan Agustusan beberapa waktu lalu, betapa kotornya jalan-jalan protokol di Balikpapan. Sewaktu musim hujan lalu ada beberapa pohon tumbang di jalan Sungai Ampal, kemacetan bisa mencapai satu kilometer. Dalam kondisi itu, ada sekelompok orang yang bekerja keras agar jalan bisa bersih kembali, agar kami juga bisa lewat lagi di jalan yang sebelumnya tertutup pohon yang tumbang. Mereka adalah petugas pembersih jalan, orang yang sering kita kecilkan setiap hari. Ketika saya lewat hari itu, hati saya berpikir, "siapa yang akan mengerjakan masalah ini jika tidak ada mereka?" Betapa pentingnya kehadiran mereka saat ini di sini.

Beberapa waktu yang lalu terjadi kebakaran di Pasar Baru. Dengan sigap, para pemadam kebakaran bekerja. Mereka bisa menyelamatkan beberapa kios, yang mungkin saja habis terbakar jika pemadaman hanya dilakukan dengan air pakai ember. Mereka sudah menyelamatkan aset, dan juga nyawa. Bukankah mereka pahlawan?

Suatu hari saya di rumah sakit di bagian gawat darurat, di suatu pagi di hari libur. Seorang calon pasien datang dalam keadaan setengah mati karena sesak nafas. Nenek itu tersiksa dan tidak ada yang bisa menolongnya di jalan, bahkan di rumahnya sendiri. Ketika masuk ke ruang gawat darurat, bukan dokter yang menyambutnya pertama, tetapi perawat. Para perawat inilah yang melakukan pertolongan pertama, menyelamatkan sang nenek jauh sebelum dokter datang. Betapa berjasanya mereka....

Teman kerja saya, kelimpungan ketika pembantunya dan baby sitternya akan resign bulan Januari nanti. Dia membayangkan siapa yang akan menemani bayinya nanti, dan siapa yang akan memasak, membersihkan rumah, dan melakukan pekerjaan domestik nanti saat mereka pergi bekerja. Dia? Tentu saja dia akan capek sepulang kerja. Dia bilang ke saya, "saya baru tahu, betapa pentingnya mereka, bukankah kita bisa bekerja karena mereka ada di rumah" begitu katanya. Ya, kita bisa bekerja karena mereka, dan mereka juga bekerja karena kita "memberinya" pekerjaan. Ternyata, posisi kita sama.

Hari ini, seorang keluarga yang telah menjaga anak saya selama dua setengah tahun, yang memberi makan dan menjaga putri pertama kami ketika kami pergi bekerja, juga akan pulang. Dia akan menikah dengan seorang lelaki tua yang menjadi pilihan orang tuanya, walau dia mengaku tidak bisa menerimanya. Tetapi dia akhirnya akan pulang juga, demi membahagiakan orang tuanya. Ketika tadi pagi dia memastikan kepulangannya, saya baru menyadari, betapa pentingnya dia bagi anak kami. Dia telah menjadi sejarah dalam dua setengah tahun pertama kehidupan putri kami. Saya bukan sedih karena kehilangannya, tetapi sedih karena sejarah anak saya itu akan menempuh lintasan yang lain. Kami pasti masih akan berkomunikasi, tetapi ada yang hilang dalam keluarga kami karena selama ini kami tidak pernah menganggapnya sebagai orang lain. Hari ini, saya sadar dengan kadar yang lebih tinggi, Timah begitu berharga buat kami. Tetapi sayang, kesadaran ini juga kemudian mengantar kepergiannya.

Orang yang selama ini sering kita anggap kecil, justru adalah orang besar.

Jumat, November 09, 2007

Ulang Tahunku yang ke-33

Hari ini saya berulang tahun yang ketigapuluhtiga. Rasanya saya sudah semakin tua.

Saya memulai hari ini dengan indah. Saya dibangunkan dengan ucapan selamat ulang tahun dan kecupan hangat dari istri saya. Sebelum berangkat kerja, saya menggendong dua bidadari kecil saya, dan merekalah hadiah ulang tahun yang paling berharga buat saya pada tahun ini.

Seorang adik dari Makassar mengirim sms ucapan selamat, katanya dia tidak punya kata-kata yang tepat untuk menyelamati, kecuali doa agar cita-cita saya tercapai. Kubalas dengan ucapan terima kasih, dan jawaban bahwa "waktu saya sudah semakin sedikit, tetapi kerinduan saya untuk bisa melakukan sesuatu buat orang lain belum terwujud."

Siang ini, istri saya menelpon, katanya beliau sudah ada di parkir kantor. "Ada apa dia tumben datang siang-siang begini mau memberi sesuatu?" pikirku. Saya suruh masuk saja. Dan, ternyata istri saya datang bersama kemenakan membawa kue ulang tahun. Ah, saya malu sekali. Saya belum pernah dikejutkan begini seumur-umur; jangankan diberi hadiah kue ultah, mengingat hari ulang tahun di kampungpun tidak. Saya malu akan diolok-olok teman. Walhasil, saya memberikan penyambutan yang tidak seharusnya kepada istri saya karena rasa malu itu. Walaupun setelah pulang saya mengirimkan sms kepadanya dan meminta maaf karena sambutan saya tidak sepadan dengan keinginannya untuk mengejutkan, tapi saya merasa istri saya sudah kecewa. Saya bilang, saya tidak siap dikejutkan begini. Saya ingin meminta maaf lagi kalau pulang ke rumah nanti, dengan kecupan.

Hari ulang tahun yang indah. Saya ingin mencoba lagi agar hari-hari saya begini seterusnya. Semoga saja saya bisa.

Oh, Hukum itu Begitu?!

Kemarin, 8 Nopember 2007, saya bersama lima orang teman, memenuhi panggilan kejaksaan untuk memberikan kesaksian atas "laporan masyarakat" perihal penyelewengan pembelian barang di lingkungan perusahaan. Sayangnya, tidak disebutkan siapa yang melaporkan. Kata teman dari legal advisor, menurut hukum, memang bisa begitu.

Kami datang, sesuai surat undangan, pada jam 9 pagi. Sekitar jam 10-an, barulah salah seorang teman dipanggil ke dalam ruangan interview. Dan saya, baru dapat giliran pada jam 2.30 sore. Bayangkan, saya duduk disana dari jam 9 pagi sampai 2.30 sore itu for waiting. Saya berfikir, betapa tidak produktifnya saya hari ini, celakanya saya tidak membawa satu bukupun untuk dibaca. Akhirnya saya membunuh kejenuhan dengan cerita sama teman, dan sesekali main game di handphone.

Tiba juga akhirnya giliran saya. Saya langsung disodori beberapa pertanyaan tulisan. Selanjutnya, saya harus menjawab pertanyaan secara lisan yang akhirnya jawaban lisan saya tulis kemudian, atas permintaan penyidik. Ah, menjawab dua kali pikirku. Ini beberapa cuplikan interviewnya

"Pak Mustamin, tahu project North Bravo?"
"Project yang mana Mas? (saya memanggil Mas karena saya anggap penyidiknya masih muda. Ini cara saya memanggil orang). North Bravo itu salah satu anjungan. Disana sudah banyak project sejak 30 tahun lalu. Nah, maksud pertanyaan ini project apa? Bisa membantu dengan sedikit penjelasan?"
"Ya project North Bravo?"
"Wah, kalau semuanya saya tidak tahu Mas. Saya mulai bekerja disana pertengahan tahun 2004 sampai pertengahan 2007. Dalam kurun waktu itu, saya bisa ceritakan karena sayalah project leadernya."
"Coba ceritakan salah satunya saja."
"Yang mana Mas? Dalam surat pemanggilan, saya tidak tahu dipanggil karena project yang mana. Saya juga ini bingung? Tapi kalau menyebut satu contoh selama masa kerja saya, bisa; cuman, apakah ini maksud pemanggilan ini atau tidak, saya juga tidak tahu."
Saya melihat jaksanya agak pusing juga. Saya kemudian mencairkan suasana setelah melihat foto-foto pelapor yang ada di depan jaksa muda itu.

Walhasil, wawancara berlangsung begitu-begitu saja, penanya tidak tahu apa yang ditanyakan; sementara yang ditanya juga tidak tahu maksud pertanyaan. Jaksa telah menerima laporan dari masyarakat, tetapi mereka tidak punya cara memverifikasi dan bagaimana cara menindaklanjuti laporan itu, khususnya dari sisi teknis. Dalam wawancara ini saya berkali-kali menyampaikan, saya berbicara bukan sebagai saksi fakta, karena mereka menanyakan hal-hal yang sama sekali saya tidak terlibat di dalamnya, sebuah project yang dieksekusi jauh sebelum saya masuk ke perusahaan saya sekarang. Tetapi mungkin, pelaksanaan hukum di negri ini begitu.

Di warung makan, saya ngobrol dengan teman legal advisor yang menemani kami. Katanya, hukum perdata dan pidana kita masih banyak mengadopsi hukum Belanda yang bahkan di Belanda sendiri sudah diperbarui lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saya sempat komplein bahwa saya telah menghabiskan waktu seharian disini, tidak membuat apa-apa, dibiarkan, tidak "diberi" apa-apa, tidak ada kompensasi sedikitpun. Ini ada opportunity lost, kataku sedikit jago. "Tidak, sebenarnya ada uang transport untuk setiap orang yang dipanggil bersaksi, tapi Pak Mus mau dikasih Rp. 25?" demikian penjelasan dan pertanyaan teman yang tidak perlu saya jawab.

Dalam pandangan saya, mestinya kejaksaan itu punya orang teknik, ekonomi, IT, dan lain-lain di dalam tim penyidikan. Dalam kasus yang saya datangi ini, sepertinya jaksa tidak mengerti yang ditanyakannya. Saya yang malah cenderung men-drive percakapan. Walhasil, penyidikan tidak mendapatkan hasil. Selain itu, saya pikir semua laporan harus diverifikasi dulu kepada pelapornya sebelum ditindaklanjuti. Bahkan, menurut saya, bagusnya pelapor dihadirkan bersama dengan saksi seperti saya ini, agar jelas tujuan pertanyaan dan penyidikannya. Sayang, hukum kita tidak mensyaratkan itu, katanya untuk melindungi pelapor katanya. Tapi mestikah begitu?

Ternyata hukum seperti itulah. Bentuknya sangat harfiah. Semua orang bisa "berkelit" bahkan "memelintir" teks. Maka tidak heran jika pelaku illegal logging kemudian bebas dan anehnya hakim mengatakan bahwa mereka siap mempertanggungjawabkan keputusan mereka secara hukum. Tentu saja, mereka lebih mengerti hukum. Dan hukum tidak mengenal perasaan.